
Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi.)
Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan sekitar 473 anak, atau lebih dari satu dari enam anak diperkirakan tinggal di daerah konflik di seluruh dunia, data UNICEF pada tahun 2023 menyebutkan populasi anak di dunia yang berusia di bawah 18 tahun adalah sebanyak 2,4 miliar. Pernyataan UNICEF disampaikan pada Sabtu (28/12) ketika konflik terus berkecamuk di seluruh dunia, termasuk di Gaza, Sudan, Ukraina dan sejumlah tempat lainnya (cnnindonesia.com).
Dalam perang Zionis yang menghancurkan Gaza, setidaknya 17.492 anak dilaporkan tewas dalam hampir 15 bulan konflik. Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada hari Jum’at 28/12) Zionis menyerang Rumah Sakit Kamal Adwan. Serangan ini menjadi tanda hancurnya fasilitas kesehatan utama yang masih beroperasi di Gaza Utara. Kondisi Gaza terutama anak-anak semakin mengenaskan karena menghadapi risiko kematian akibat cuaca dingin, karena ketiadaan tempat tinggal yang memadai.
Mengingat fakta ini, kaum Muslim tidak bisa berharap pada dunia internasional. Faktanya, semenjak Palestina membara akibat penjajahan Zionis 1987 lalu, para pemimpin dunia internasional termasuk pemimpin-pemimpin negeri Muslim kerap menjadikan isu Palestina hanya untuk pencitraan dengan mengecam, menghardik ataupun mengutuk kebiadaban Zionis. Yang lebih menyakitkan lagi, para pemimpin justru mengambil solusi dua negara sebagaimana arahan Barat atau pengusung Kapitalisme, yang jelas tidak bisa menyelesaikan perang ideologi ini.
Palestina terus mendapat serangan bertubi-tubi dari Zionis. Banyak korban berjatuhan, mayoritas perempuan dan anak-anak. Namun dunia termasuk negeri muslim tetap sibuk dengan dialog sana-sini, juga upa ya mediasi, namun tiada hasil yang berarti. Penguasa negeri muslim hanya sekadar pencitraan ketika menyerukan pembelaan terhadap Palestina, apalagi solusi yang ditawarkan mengikuti usulan Barat. Dunia internasionalpun termasuk lembaga dunia hanya sekadar memberikan kecaman.
Umat IsIam harus ingat, keberadaan Zionis di tanah Palestina adalah hasil dari perjanjian keji internasional negara-negara front Barat. Perjanjian Skyes-Picot, kemudian Deklarasi Balfour dari Inggris menjadi jalan awal penjajahan Zionis di Palestina. Kemudian penjajahan Zionis tetap dipelihara negara pengemban ideologi Kapitalisme hari ini, Amerika Serikat. Amerika Serikat menjadikan Zionis sebagai penjaga kepentingannya di Timur Tengah.
Dilansir dari alwaie.net, 3 November 2024 Amerika Serikat telah mendukung Zionis sejak 1948 sampai sekarang. Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Zionis terbentuk ketika Duta Besar Amerika Serikat James Grover McDonald menunjukkan kredensialnya sejak 28 Maret 1949. Tidak hanya itu, Amerika Serikat juga memberikan dukungan kepada Zionis pada 1973. Ketika Perang Yom Kippur berlangsung. Kala itu Presiden AS Richard Nixon membantu Zionis dengan cara mengangkut perangkat keras militer setelah Mesir dan Suriah.
Pada dasarnya, alasan Amerika Serikat mendukung Zionis karena melihat Zionis sebagai alat yang berguna untuk menahan pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah di antara negara-negara Arab selama Perang Dingin berlangsung. Bahkan Joe Biden yang kala itu sebagai presiden Amerika Serikat memastikan dukungan AS terhadap Israel. Pada Rabu (2/10/2024) setelah pertemuan dengan para pemimpin negara-negara G7. Biden menulis di plafrom media sosial X “Saya menegaskan kembali komitmen teguh Amerika Serikat terhadap keamanan Israel.”
Artinya, tidak akan ada keadilan sedikitpun untuk kaum Muslimin, khususnya di Palestina. Selama sistem kepemimpinan Kapitalisme eksis dalam kancah perpolitikan internasional. Sekalipun ada wacana menyeret Benjamin Netanyahu ke Mahkamah Pengadilan Internasional, upaya itu pun tidak akan membuat Zionis merasa takut. Kecaman, kutukan, hardikan, dari penguasa negeri Muslim juga tidak akan pernah dipandang sebagai tekanan politik bagi Zionis.
Demikian pula lembaga-lembaga internasional yang melaporkan kejadian genosida di Palestina. Zionis pun akan tetap berdiri pongah tanpa merasa bersalah. Sebab, negara pengemban sistem Kapitalisme telah memberikan jalan pada Zionis untuk membantai Palestina, termasuk anak-anak di Gaza.
Kaum Muslimin harus memiliki agenda sendiri untuk menyelamatkan saudara-saudara Muslim di Palestina. Harus ada upaya dakwah yang menyatukan pemikiran dan perasaan bahwa akar masalah di Palestina adalah perang ideologi antara Islam dan Kapitalisme, dan solusi syar’inya hanya jihad fi sabilillah mengusir penjajah Zionis. Penyatuan pemikiran dan perasaan berlandaskan Islam ini akan membuat kaum Muslimin sadar dan tidak akan ridha pada penerapan sistem Kapitalisme di negeri-negeri Islam termasuk di Palestina.
Sampai akhirnya, pemuda-pemuda di Timur Tengah bergerak untuk bangkit melawan rezim mereka dan bergerak ke Palestina untuk membebaskan Palestina. Aktivitas dakwah yang demikian hanya bisa dilakukan oleh partai politik Islam Ideologis. Sebab, merekalah yang mengambil fikrah dan thariqah dakwah berlandaskan pada ideologi Islam. Sehingga mereka pula yang mampu memahami dengan benar realita masalah dan solusi untuk menyelesaikannya, termasuk masalah penjajahan di Palestina.
Mereka juga yang terus istiqomah membimbing umat untuk mengenali kembali perisai (junnah) dan pengurus (raa’in) umat Islam, yakni Khilafah. Hal itu dibuktikan dengan keistiqomahan mereka yang senantiasa menawarkan solusi mengirimkan tentara untuk berjihad dan penyatuan kaum Muslimin di bawah naungan Khilafah untuk menyelamatkan saudara Muslim di Palestina. Upaya sungguh-sungguh itu harus terus istiqomah dilakukan. Karena realitanya, hanya dengan institusi Khilafah sajalah kaum Muslimin memiliki kekuatan politik.
Agenda ini juga harus menjadi agenda kaum Muslimin terutama para pemudanya di mana pun berada. Karena seluruh kaum Muslimin harus memahami tuntunan Islam yang shahih dalam menyelesaikan penjajahan Palestina. Inilah agenda umat yang harus diprioritaskan dan diperjuangkan.
Secara i’tiqaadi, kita meyakini bahwa umat Islam adalah umat terbaik (khayru ummah). Sayang, realitanya kini kondisi umat Islam justru terpuruk. Pembantaian kaum Muslim di Palestina yang terus berlangsung hingga saat ini hanyalah salah satu bukti tragis kondisi Umat hariini. Karena itu, Umatharus segera dibangun kesadarannya akan solusi tuntas penjajahanPalestina ini.[]

