Mata Banua Online
Senin, Januari 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Apa Kabar Sastra Masuk Kurikulum?

by Mata Banua
15 Januari 2025
in Opini
0
D:\2025\Januari 2025\16 Januari 2025\8\8\Hafia Akbar.jpg
Hafia Akbar (Guru SMP IT Alkahfi, Pasaman Barat.)

Tahun 2024 lalu, tepatnya pada tanggal 20 Mei, Kemendikbudristek memperkenalkan program Sastra Masuk Kurikulum. Ini merupakan turunan dari episode Merdeka Belajar 15: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Belajar. Sastra Masuk Kurikulum tak lain merupakan bagian dalam proses penguatan kompetensi dan budaya literasi membaca sebagai salah satu tujuan Kurikulum Merdeka berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024.

Di awal, program yang diinisiasi Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan tersebut tampak begitu khidmat sebab berkolaborasi dengan beberapa penulis dan sastrawan tanah air. Mereka ditunjuk sebagai tim kurator untuk memilah karya sastra yang akan digunakan sebagai bahan ajar dalam program tersebut.

Berita Lainnya

Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Ketika Diam Menjadi Pesan: Luka Relasi di Era Komunikasi Digital

18 Januari 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Ketika Game Online dan Kekerasan Mengancam Generasi

18 Januari 2026

Sebagai seorang guru, tentunya saya begitu menunggu program ini hadir untuk menunjang proses penguatan minat belajar siswa. Namun, alih-alih mendapati bagaimana tindak lanjut dan teknis program ini hingga sampai ke seluruh sekolah, justru problematika pelaksanaannya yang lebih akrab di telinga. Seperti buku yang direkomendasikan mengandung adegan vulgar dan kekerasan, buku panduan yang dibuat tidak memenuhi standar editorial dan berisi kekeliruan informasi, hingga kurator kesulitan mencari buku yang sesuai untuk siswa SMP.

Beberapa sastrawan juga heran dan kecewa, kenapa buku mereka tidak masuk dalam kategori pilihan kurator. Padahal, program Sastra Masuk Kurikulum ini di bawah naungan Kementerian Pendidikan yang juga telah memberikan penghargaan terhadap buku-buku mereka.

Seperti Iyut Fitra, seorang sastrawan asal Sumatera Barat. Pada tahun 2019, buku puisinya yang berjudul Mencari Jalan Mendaki meraih penghargaan dari Perpusnas RI. Serta pada tahun 2020, bukunya yang berjudul Lelaki dan Tangkai Sapu mendapatkan penghargaan sastra dari Badan Bahasa Kemendikbud RI. Tidak masuknya buku-buku beliau dalam program yang digawangi oleh Menteri Pendidikan tersebut, tentunya merupakan sebuah keparadoks.

Setelah perbincangan terkait problematik program Sastra Masuk Kurikulum mulai senyap, pelaksanaan program tersebut pun juga ikut senyap. Bagaimana regulasi pelaksanaan program tersebut belum jelas. Mulai dari sosialisasi dari kementerian terkait kepada pihak sekolah hingga pengadaan buku-buku sastra yang direkomendasikan oleh para kurator. Bahkan, website Kementerian Pendidikan terakhir kali membahas program tersebut pada pertengahan 2024. Setelah itu, tidak ada lagi. Layu sebelum berkembang.

Untuk Siswa

Sampai saat sekarang, kejelasan tentang program ini masih abu-abu. Kalau memang program ini benar-benar tidak berjalan atau memang tidak ada lagi, tentu sangat disayangkan. Sebab, program Sastra Masuk Kurikulum merupakan sebuah langkah bagus untuk menguatkan minat dan literasi siswa di tengah gempuran gadget dan media sosial.

Karena memiliki harapan Indonesia Emas 2045 nanti, namun dengan realita siswa lebih suka berjam-jam bersama gadgetnya saat ini, membuat kita cemas. Sebab, membaca buku tidak bisa digantikan dengan hanya melihat TikTok, Instagram, dan lainnya. Karena membaca ada proses menajamkan pikiran. Otak kita akan aktif dan bertengkar dengan pikiran-pikiran yang kita baca. Membaca membuat kita mampu berargumen dan bernarasi. Tidak hanya sebatas mampu memberikan emosi, diam, dan tanpa solusi.

Untuk Guru

Saya membayangkan saat program ini berjalan, guru dan murid dalam sebuah kelas menyepakati buku sastra yang akan mereka baca dan bahas nantinya—tentunya buku yang telah melalui proses kurasi. Sebelum pertemuan dan pembahasan buku tersebut dimulai, guru harus sudah menyelesaikan membaca dan memahami isi buku tersebut agar dapat menjelaskan dengan baik kepada para siswa.

Alhasil, program ini tidak hanya menghasilkan siswa yang memiliki literasi yang kuat, tapi juga membentuk guru-guru yang cerdas.

Guru membaca sastra, tidak kalah penting dengan siswa membaca sastra. Menurut Dr. Karlina Supeli dalam sebuah seminarnya, “Betapa penting membaca sastra, sejarah, filsafat. Karena di dalam sastra orang diajak bertemu dengan kisah tentang manusia, penderitaannya hidup dan mati, pilihan-pilihan yang tidak selalu tegas. Sastra mengajarkan orang berbicara dengan fasih, seni bicara, seni bahasa, akan menggerakkan seni pemikiran.”

Dalam konteks guru, ini berarti membaca sastra dapat membantu mereka mengasah kepekaan emosional, berpikir kritis, dan kemampuan komunikasi yang lebih baik. Dengan kata lain, guru yang membaca sastra tidak hanya memperkaya diri, tetapi juga mampu meningkatkan kompetensi profesionalnya, baik dalam menyampaikan materi maupun dalam membangun hubungan yang empatik dengan siswa. Kompetensi inilah yang diperlukan untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern.

Keberadaan Buku Berkualitas

Salah satu hal yang paling ditunggu dari program ini ialah pengadaan buku-buku yang berkualitas di sekolah. Sebab, salah satu yang membuat terhambatnya minat baca siswa ialah kurangnya bahan bacaan, sedangkan buku yang ada hanya buku pelajaran. Dengan program Sastra Masuk Kurikulum ke sekolah, alokasi dana BOS untuk pengadaan buku pelajaran atau LKS bisa ditambahkan dengan buku-buku sastra yang berkualitas.

Kita berharap program ini bukannya sekadar numpang lewat saja di tengah upaya Kementerian Pendidikan untuk mewujudkan kecerdasan bagi anak bangsa. Lebih-lebih Abdul Muti sebagai penentu arah pendidikan negeri ini telah memperkenalkan konsep DeepLearning dalam proses pembelajaran.

Sebuah pendekatan belajar, proses memberdayakan siswa untuk berpikir lebih dalam, berkolaborasi lebih baik, dan memecahkan masalah lebih bermakna. Konsep ini sangat cocok untuk diintegrasikan dengan program Sastra Masuk Kurikulum. Karena pada bacaan sastra, ia menghadirkan narasi, konflik, dan penyelesaian masalah yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan memperkuat daya tahan emosi agar bisa berpikir lebih dalam dan tenang. Sebuah modal awal untuk membentuk generasi muda yang cerdas, tenang, kritis, dan argumentatif.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper