Mata Banua Online
Jumat, Januari 23, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Pria Stres Akibat Kerjaan? Ini Bahayanya Menurut Dokter

by Mata Banua
1 Januari 2025
in Mozaik
0
D:\2025\Januari 2025\2 Januari 2025\11\Halaman 1-11 Kamis\pria.jpg
(foto:mb/web)

Tekanan dan tuntutan dalam pekerjaan sering kali menjadi sumber stres yang signifikan bagi pria. Stres kronis dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, termasuk sistem saraf dan hormonal yang berperan penting dalam fungsi ereksi.

Dokter spesialis andrologi Eka Hospital BSD, Christian Christopher Sunnu mengatakan stres dalam pekerjaan, jarang berolahraga, gangguan tidur, hingga gaya hidup menjadi faktor laki-laki mengalami disfungsi ereksi. “Disfungsi ereksi pada usia muda paling sering disebabkan oleh masalah gaya hidup yang tidak sehat dan akhirnya berdampak pada penurunan kadar testosteron hingga terhambatnya aliran darah menuju penis,” kata Christian Christopher Sunnu di Tangerang, baru-baru ini.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\23 Januari 2026\11\Halaman 1-11 Jumat\7 rebusan.jpg

7 Rebusan Daun Untuk Menurunkan Gula Darah

22 Januari 2026
G:\2026\Januari\23 Januari 2026\11\Halaman 1-11 Jumat\5 produk.jpg

5 Produk Kecantikan Ini Jangan Disimpan di Kamar Mandi

22 Januari 2026

Dia menjelaskan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa paparan berlebihan terhadap pornografi juga dapat menyebabkan masalah disfungsi ereksi. Hal ini karena akibat pengaruh persepsi dan ekspektasi seksual yang muncul dari menonton film porno.

Kemudian, pola makan tinggi gula, lemak trans, dan makanan olahan, juga dapat meningkatkan risiko gangguan ereksi dengan memengaruhi kesehatan pembuluh darah. Ia mengatakan disfungsi ereksi adalah suatu kondisi yang membuat seseorang tidak bisa mencapai atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seks.

Ereksi dapat terjadi jika kondisi pembuluh darah, saraf, otot, dan hormon dalam keadaan baik. Namun, disfungsi terjadi ketika salah satunya mengalami gangguan ketika ereksi.

Kasus ini mungkin lebih umum terjadi pada laki-laki yang berusia lanjut. Namun, sebuah penelitian membuktikan, terdapat sekitar 1-14 persen pria berusia di bawah 40 tahun yang mengalami impotensi.

“Kini, disfungsi ereksi juga mulai ditemukan pada usia muda. Masalah disfungsi ereksi tentu tidak sekadar berpengaruh pada keharmonisan hubungan pasangan, tetapi bisa membuat program kehamilan jadi terhambat,” ujarnya.

Penyebab lain orang mengalami disfungsi ereksi adalah kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, obesitas, kolesterol tinggi, hipotiroid, penyakit ginjal, dan gangguan hormon Sementara itu, tanda-tanda seseorang mengalami disfungsi ereksi, yakni tidak dapat ereksi saat berhubungan seksual. Ereksi tidak bertahan lama, kekuatan ereksi menurun, sehingga penis terasa kurang keras.

Lalu, hanya dapat ereksi sesekali, membutuhkan banyak rangsangan seksual agar dapat ereksi, penurunan gairah seksual, frekuensi ereksi spontan (seperti di pagi hari) berkurang atau hilang sama sekali. “Penis tidak responsif terhadap rangsangan seksual dan kecemasan atau frustrasi akan performa seksual,” kata dia.

Christian mengatakan ada beberapa cara mengatasi disfungsi ereksi, seperti perubahan gaya hidup yakni berhenti merokok, membatasi atau berhenti konsumsi alkohol, berolahraga rutin minimal 30 menit dalam sehari, konsumsi makanan sehat, terutama yang kaya akan zinc dan omega-3, karena dapat meningkatkan hormon testosteron. “Bisa juga melakukan berbagai hobi, meditasi atau yoga yang dapat mengendalikan stres, menjaga berat badan ideal dan cukup tidur,” kata dia.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan konseling psikologi, mengkonsumsi obat setelah berkonsultasi dengan dokter, melakukan tindakan medis, seperti terapi hormon, penis pump, injeksi obat hingga operasi. “Ada juga cara lain dengan pengobatan alternatif,” ujarnya. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper