Mata Banua Online
Kamis, Februari 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Minat Belanja Turun, Mal Makin Sepi ?

by Mata Banua
3 September 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\September 2024\4 September 2024\7\Halman ekonomi (04 Sept )\master 7.jpg
MINAT KE MALL – Menurunnya kelas menengah pasca covid membuat trend kunjungan ke pusat perbelanjaan seperti mall ikut turun. Hal ini membuat kondisi mall menjadi sepi dibandingbeberapa tahun sebelumnya.(foto:mb/ant)

 

JAKARTA – Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) angkat bicara terkait tren belanja kelas menengah yang disebut mengalami tren penurunan.

Berita Lainnya

Pemerintah Janjikan Stok Pangan Aman

Pemerintah Janjikan Stok Pangan Aman

19 Februari 2026
Mobilitas Mudik Lebaran 2026 Diperkirakan Menyusut

Mobilitas Mudik Lebaran 2026 Diperkirakan Menyusut

19 Februari 2026

Hippindo mengatakan ada sejumlah kebijakan pemerintah yang membuat sejumlah segmen kelas menengah malas berbelanja. Kebijakan yang dimaksud misalnya, pemberlakuan ganjil genap dan pembatasan impor yang membuat masyarakat enggan untuk berbelanja di mal.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah menyampaikan, kebijakan ganjil genap di Jakarta misalnya, telah menyulitkan masyarakat untuk ke mal. “Mau ke mal itu susah. Yang kelas menengah punya mobil, nggak mau naik bus. Mobilnya ganjil atau genap, dia susah, harus tukar mobil dulu,” kata Budihardjo

Waktu penerapan kebijakan ganjil genap juga dinilai terlalu panjang yakni pukul 16.00-21.00 WIB. Kebijakan ini, kata dia, telah membuat jam makan menjadi hilang dan membuat mal-mal menjadi sepi sehingga mengurangi omset peritel yang ditopang oleh masyarakat kelas menengah.

Selain itu, kebijakan pemerintah memperketat masuknya barang impor resmi telah membuat ritel sulit untuk menjual barang dan memenuhi stok.

Kurangnya variasi produk dan harga barang impor yang mahal membuat masyarakat memilih berbelanja di luar negeri dibanding dalam negeri.

“Ini kan kita sendiri yang menurunkan kelas menengahnya, bukan karena daya beli. Jadi daya beli itu menurut saya selama bisnisnya berjalan, daya beli akan berjalan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia mengharapkan pemerintah, dalam hal ini pemerintah provinsi untuk meninjau ulang kebijakan ganjil genap. Misalnya, mempersingkat kebijakan ganjil genap menjadi pukul 17.00-21.00 WIB agar masyarakat dapat meluangkan waktunya ke mall.

Kepada pemerintah pusat, Hippindo mengharapkan agar kebijakan impor resmi tidak dipersulit. Dengan begitu, peritel dapat memenuhi stok toko dan menarik lebih banyak pengunjung. Alih-alih mempersulit impor resmi, pemerintah seharusnya memperketat pengawasan produk impor ilegal.

Di sisi lain, Hippindo telah menginisiasi sejumlah program seperti Belanja di Indonesia Aja, Kelingking Fund untuk Pilkada, hingga diskon-diskon menarik lainnya.

Program ini diharapkan dapat mengembalikan jumlah kelas menengah i Tanah Air, dan menghabiskan uangnya di dalam negeri. “Kita harus tingkatkan kembali domestic market konsumsi kita,” imbuhnya. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper