
BANJARMASIN – Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Banjarmasin, Windiasti Kartika ST, MT, menyampaikan maraknya penipuan yang memanfaatkan QR Code, yang dikenal dengan istilah “Quishing”.
Ia menjelaskan secara detail perbedaan antara barcode dan QR Code serta potensi bahaya yang mengintai penggunaannya.“Apa bedanya QR Code dan Barcode? Kalau barcode itu biasanya kita temukan di kemasan-kemasan barang, misalnya makanan ringan atau kebutuhan harian. Barcode terdiri dari garis-garis yang di-scan oleh kasir untuk menunjukkan stok barang dan sebagainya,” jelas Windiasti saat apel rutin bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Halaman Balaikota Banjarmasin, Selasa (20/08)
Sementara itu, QR Code sering digunakan untuk pembayaran atau tanda tangan elektronik. Namun, saat ini penipuan baru yang disebut Quishing, yaitu pishing yang menggunakan QR Code, semakin sering terjadi di Banjarmasin.
Menurut Windiasti, Quishing adalah metode pishing yang mengelabui korban melalui QR Code palsu. “Quishing bertujuan untuk mencuri data pribadi kita, seperti nama, data login, OTP, dan sebagainya. Biasanya, pelaku menempelkan QR Code palsu di tempat-tempat umum, seperti kotak amal atau spanduk, seolah-olah dikeluarkan oleh lembaga resmi,” tambahnya.
Ia memberikan tips untuk menghindari menjadi korban Quishing. “Selalu cek apakah QR Code tersebut meminta data pribadi seperti nama, alamat, atau data login. Jika ragu, periksa apakah rekening bank yang dituju benar-benar milik lembaga yang bersangkutan,” tegasnya.
Dengan meningkatnya penggunaan QR Code di tenant-tenant, tempat makan, dan belanja di Kota Banjarmasin, Windiasti mengingatkan seluruh ASN untuk lebih waspada terhadap potensi penipuan ini dan selalu berhati-hati saat menggunakan teknologi ini dalam kehidupan sehari-hari. Via/rds

