BANJARMASIN – Film Jendela Seribu Sungai (JSS) garapan Pemko Banjarmasin bersama Radepa Studio yang menelan dana Rp 6,6 miliar dari pagu anggaran Rp 6,8 miliar lebih, diprediksi sulit untuk balik modal.
Ibarat peribahasa, besar pasak daripada tiang. Pola kerja sama aset digital daerah yang diharapkan bisa menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Banjarmasin, ditaksir tak akan terwujud.
Sebelumnya, berdasar hasil rapat Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) Pemko Banjarmasin bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Banjarmasin dipatok target film JSS bisa menyetor pendapatan mencapai Rp 1,4 miliar.
Film JSS bergenre drama dan petulangan ini usai dirilis pada 20 Juli 2023, telah terdeteksi di laman IMDb (Internet Movie Database) dimiliki Amazon, perusahaan multinasional berbasis di Bellevue, Washington, Amerika Serikat (AS) yang berfokus pada e-niaga, komputasi awan (cloud computing), streaming digital dan kecerdasan buatan.
Berselang 3 bulan, film berdurasi 1 jam 42 menit ini ternyata tidak bisa masuk deretan box office, justru malah sepi penonton. Padahal, film garapan sutradara Jay Sukmo dan naskah film ditulis oleh Swastika Nohara, Miranda Seftiana dan Avesina Soebli, juga diputar di jejaring bioskop terbesar di Indonesia yakni Studio XXI, Cinepolis dan CGV Cinemas.
Target bisa tembus tiket tembus 30 ribu penonton, ternyata justru berada di bawahnya. Hingga pada 13 Agustus 2023 lalu pada aplikasi Cinepoint hanya mendapat rating 6 dari skala 10 yang menjadi film box office, bahkan film JSS hanya bertahan di tangga film Cinepoint hanya sepekan pada kategori film lokal.
Kondisi sepinya penonton tak ditepis oleh Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Zulfaisal Putera.
“Hingga sekarang, film JSS usai dirilis pada 20 Juli 2023 serentak pada jaringan bioskop di Indonesia hanya ditonton oleh 28.957 orang,” kata Zulfaisal Putera kepada awak media di Banjarmasin, Jumat (27/10) malam, seperti dikutip jejakrekam.com.
Dia menyebut persaingan pasar film nasional sangat keras di Indonesia turut memengaruhi hingga JSS belum bisa bertengger cukup lama pada ‘tangga’ film box office atau film yang mampu menghasilkan pendapatan lebih dari biaya produksinya.
“Ketika film JSS diluncurkan pada 20 Juli 2023 sudah dihantam untuk bersaing dengan film lain, terutama produksi Hollywood (AS) dan lainnya,” ucap Zul –sapaan akrab pejabat ini.
Menurut dia, dengan persaingan pasar yang keras, makasebuah film belum tentu bisa booming. Terlebih lagi, bisa meraih pendapatan besar terlebih lagi dapat balik modal. “Itu yang perlu dipahami,” kata Zul.
Ambil contoh, menurut Zul, film garapan sutradara kondang Garin Nugroho bisa pula anjlok, hingga sepi peminat di pasaran. “Sehingga kalau kawan-kawan berharap film itu menghasilkan PAD, begitu pula kami juga berharap. Namun, sistem (persaingan) itu membatasi,” katanya. jjr