Minggu, Agustus 31, 2025
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
No Result
View All Result
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Waspada! Peneliti Temukan Diabetes Jenis Baru

by matabanua
3 Agustus 2022
in Mozaik
0
D:\Data\Agustus 2022\0804\11\Halaman 1-11 Kamis\waspada.JPG
(Foto:mb/web)

DIABETES jadi salah satu penyakit tak menular yang paling familiar bagi masyarakat Indonesia. Penyakit yang terkenal dengan sebutan penyakit gula ini, memang bisa dialami oleh siapa pun, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga yang berumur baik pria atau wanita.

Selama ini, masyarakat awam mengenal diabetes punya dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Namun, baru-baru ini peneliti menemukan jenis baru dari diabetes, yang justru disebutkan selama ini sudah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Artikel Lainnya

D:\2025\September 2025\1 September 2025\11\Halaman 1-11 Senin\anak-anak.jpg

Anak-anak Jadi Kelompok Rentan Terkena Cacingan

31 Agustus 2025
D:\2025\September 2025\1 September 2025\11\Halaman 1-11 Senin\5 makanan.jpg

5 Makanan yang Tidak Boleh Dimakan Bersama Susu, Bikin Mules

31 Agustus 2025
Load More

Kelompok peneliti dari Einstein Global Diabetes Institute (EGDI) mengatakan mereka telah menemukan jenis diabetes ketiga di sub-Sahara Afrika dan Asia. Jenis baru dari diabetes ini diduga disebabkan oleh malnutrisi, yaitu kekurangan gizi sehingga disebut sebagai diabetes yang berhubungan kekurangan gizi, dikutip dari Express, Selasa (2/8/22).

Disebutkan lebih lanjut, diabetes tipe tiga ini sebenarnya sudah dipantau oleh para peneliti sejak lama dan diyakini sudah dialami oleh puluhan juta orang secara global.

Dokter Hawkin, direktur pendiri EGDI mengatakan diabetes tipe 3 ini jarang terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, melainkan terjadi di tipikal negara yang berpenghasilan rendah adan menengah.

“Literatur ilmiah saat ini tidak memberikan panduan tentang pengelolaan diabetes terkait malnutrisi yang jarang terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi (diabetes terkait malnutrisi) ini ada di lebih dari 60 negara berpenghasilan rendah dan menengah,” ujar Dr. Hawkins.

Faktor bahwa dokter-dokter di wilayah berpenghasilan rendah cenderung membaca jurnal medis dari Barat, sehingga kemungkinan para dokter ini tidak mempelajari tentang diabetes terkait malnutrisi. Sehingga akhirnya tidak mencurigai tipe ini bisa dialami pada pasien-pasien mereka, disebut jadi penyebab kurangnya pemahaman akan diabetes tipe 3 ini.

Dengan temuan peneliti EGDI terkait diabetes yang berhubungan dengan malnutrisi tersebut, diharapkan bisa meningkatkan awareness akan penyakit mematikan satu ini.

“Kami berharap temuan kami akan meningkatkan kesadaran akan penyakit ini, penyakit yang sangat menghancurkan bagi banyak orang dan akan membuka jalan bagi strategi pengobatan yang efektif, ” pungkas Dr. Hawkins.okz/ron

 

Tags: diabetesEGDI
ShareTweetShare

Search

No Result
View All Result

Jl. Lingkar Dalam Selatan No. 87 RT. 32 Pekapuran Raya Banjarmasin 70234

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan

© 2022 PT. CAHAYA MEDIA UTAMA

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper

© 2022 PT. CAHAYA MEDIA UTAMA