loader image

Impor Daging Rugikan Peternak Lokal

D:\Data\Januari 2022\1401\7\7\FOTO HAL EKONOMI ( 6 dan 7 )\master 7.jpg

JAKARTA – Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) mengaku khawatir impor daging kerbau beku India akan membanjiri pasar dalam negeri tahun ini. Pasalnya, itu bakal merugikan peternak lokal di tengah optimisme untuk memulihkan usaha sapi potong pada 2022.

Tercatat, realisasi impor daging kerbau beku pada 2016 sebesar 39,5 ribu ton dan meningkat menjadi 45,1 rbu ton di tahun 2017. Memasuki 2018 realiasi impor naik signifikan menjadi 79,6 ribu dan bertambah pada 2019 menjadi 93,9 ribu ton. Adapun untuk 2022, pemerintah belum menyampaikan kuota penetapan impor daging kerbau.

“Kami khawatir disaat peternakan mulai bangkit, dihantam banjirnya daging kerbau beku. Ini benar-benar harus diantisipasi dan diawasi dari awal,” kata Ketua Umum PPSKI, Nanang Subendro, dalam webinar yang digelar Pataka, Kamis.

Nanang menuturkan, antisipasi itu dapat dilakukandengan melakukan pemetaan secara tepat dalam pemasukan impor daging kerbau India. PPSKI memohon pemerintah agar hanya daerah yang mengalami defisit yang disuplai dengan impor kerbau beku tersebut.

Ia mencontohkan seperti tahun 2016 lalu yang menjadi tahun pertama importasi dibuka. Saat itu impor dilakukan melalui Perum Bulog dan distribusinya dikhususkan hanya untuk wilayah Jabodetabek.

Namun, dalam prosesnya, terdapat kebocoran distribusi ke wilayah lain dan disinyalir masuk ke daerah sentra prduksi daging sapi lokal. “Kalau ini terjadi ke daerah produsen yang menjadi tumpuan harapan peternak, ini akan menghancurkan animo peternak untuk menjalankan usahanya,” kata Nanang.

Baca juga :  Saham Facebook dan Twitter Rontok

Dirinya juga menyinggung situasi neraca daging nasional yang masih tetap defisit. Ia mengakui terdapat peningkatan populasi sapi dalam negeri. Tercatat, tahun 2021 populasi mencapai 18 juta ekor naik dari tahun 2020 sebesar 17,4 juta ekor. Namun, kenaikan populasi itu belum mampu menurunkan defisit sapi secara signifikan dari tahun ke tahun.

Menurut Nanang, semestinya defisit daging sapi yang terjadi memberikan peluang usaha di sektor peternakan. Namun, nyatanya cukup minim minat untuk berbisnis di usaha sapi potong. “Animo masyarakat dan peternak muda kurang begitu bagus di saat ada peluang untuk menangkap kekosongan itu,” katanya.

Ia menilai, penyebab rendahnya minat itu lantaran tingkat kesejahteraan yang kurang menjanjikan. Sekalipun pemerintah terus mengejar swasembada daging sapi lewat berbgaai program, diyakini tidak akan tercapai jika peternak tidak sejahtera.

“Maka bagi kami dibalik dulu, sejahterakan pelaku usaha, bisa hidupi rumah tanggana, maka otomatis banyak yang akan terjun dan populasi akan terus bertambah, kata dia. rep/mb06