loader image

Wali Kota Pimpin Apel Kesiapan PTM

C:\Users\Yoyos\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\persiapan.jpeg
PERSIAPAN PTM – Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Ariffin dan Wakil Wali Kota Banjarbaru Wartono bersama Ketua DPRD Kota Banjarbaru Fadliansyah dan Dandim 1006/Banjar Letkol Inf Imam Muchtarom saat menghadiri Apel Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dan Mitigasi Risiko.

BANJARBARU – Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Ariffin memimpin Apel Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dan Mitigasi Risiko.

Apel yang digelar di Halaman SDN 2 Loktabat Selatan Jalan RO Ulin Kelurahan Loktabat Selatan, turut dihadiri Wakil Wali Kota Banjarbaru Wartono, Dandim 1006/Banjar, Kapolres Banjarbaru, Ketua DPRD Banjarbaru Fadliansyah, Ketua Komisi I DPRD Kota Banjarbaru, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Kominfo, Kalas BPBD, Kepala sekolah PAUD, SD dan SMP, serta Ketua Komite PAUD, SD, dan SMP.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Dr H Muhammad Aswan MSi mengatakan, PTM ini adalah sebuah gerakan bersama yang diharapkan dapat menerapkan protokol kesehatan untuk keselamatan anak didik. Sebelum PTM sebutnya, ada beberapa hal yang telah dipersiapkan, diantaranya di lakukan piloting, setiap gugus sekolah ditetapkan untuk menjadi percontohan dan dibina protokol kesehatannya, sesuai dengan SKB empat menteri.

Menurutnya, Disdik bersama Komisi I DPRD juga telah memberikan bantuan alat prokes untuk SD dan SMP. “Mudah-mudahan untuk taman kanak-kanak dan PAUD juga dapat di bantu nantinya,” ujar Aswan.

Untuk vaksinasi telah dilakukan sebelum persiapan PTM sudah 90 person tenaga pendidik Banjarbaru tervaksin. Sedangkan, untuk siswa adalah sasarannya remaja yang usianya minimal 12 tahun yang berada di SMP dan SD kelas 5 dan 6 sebagian.

Untuk siswa SMP yang usianya 12 sampai 15 ini ada terdapat di 25 sekolah di Kota Banjarbaru.

Baca juga :  Pemko Diminta Tingkatkan PAD di Sektor Rusunawa

“Tanggal 11 Oktober akan dimulai PTM untuk sekolah-sekolah piloting,” ujarnya.

Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Ariffin mengatakan, sambil menunggu Instruksi Mendagri, akan dilakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

Dimana hal ini merupakan tindak lanjut dari menurunnya status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Kota Banjabaru menjadi level 2.

Pelaksanaa PTM terbatas ini pun akan dilaksanakan secara bertahap, dan berdasarkan acuan SKB Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. “Pembelajaran tatap muka menjadi pilihan bagi satuan pendidikan sebagai upaya mengurangi dampak negatif bagi peserta didik,” ucapnya.

Diharapkan, dalam proses PTM terbatas ini tidak akan muncul masalah yang dihadapi oleh satuan pendidikan, baik itu pendidik maupun peserta didik.

Satuan pendidikan dapat menyiapkan beberapa alternatif, yang pada akhirnya akan terpilih satu bentuk yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Karena, pembelajaran tatap muka harus benar-benar dipersiapkan dengan baik oleh satuan pendidikan.

Persiapan yang baik akan mendukung lancarnya penyelenggaraan pembelajaran tatap muka, khususnya pada masa transisi atau awal di mulai.

Menurutnya, persiapan yang perlu dilakukan pada semua komponen, yaitu persiapan kebijakan, sarana prasarana satuan pendidikan, warga satuan pendidikan, dan kesiapan orang tua peserta didik.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang telah dibentuk memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk mendukung penyelenggaraan pembelajaran tatap muka ini.

Baca juga :  Pariwisata Kalsel Bergerak dengan AKB

BPBD diharapkan bisa menyemprotkan desinfektan di setiap sokolah piloting setiap dua hari sekali untuk sterilisasi ruangan, dan diharapkan tidak timbul klaster sekolah saat pelaksanaan PTM.

“Kita juga meminta komitmen dari pihak-pihak sekolah untuk menjalankan protokol kesehatan secara baik dan benar,” Kata Aditya menegaskan.

Pembelajaran tatap muka juga sebagai upaya untuk mengantisipasi hilangnya kesempatan atau minat belajar bagi peserta didik pada masa Pandemi Covid-19, maka diperlukan kebijakan dengan mekanisme dan strategi yang beragam sesuai dengan kondisi satuan pendidikan dan kondisi wilayah masing-masing, jelas Aditya. hum/dio

CUCI TANGAN – Dua orang siswa SD yang akan memasuki ruang kelas diharuskan mencuci tangannya dengan sabun dan air yang mengalir.