loader image

Jualan Online Hingga Jual Mobil

F:\ARSIP WEBSITE MATA BANUA\2021\Juli\23 Juli 2021\6\Jualan Online Hingga Jual Mobil.jpeg

JAKARTA – Pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor perekonomian, termasuk sektor usaha kuliner seperti katering untuk pernikahan. Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Kota Bandung, Disa Sandhi (Celdi Catering), menceritakan bagaimana kondisi pandemi sangat berat untuk pengusaha katering pernikahan.

Pasalnya, resepsi pernikahan berkurang drastis hingga kebijakan pengetatan dan pembatasan oleh pemerintah, membuat sektor ini babak belur.

“Bisa dibilang, sekarang di tahun kedua pandemi berat banget buat pengusaha katering dan wedding. Karena kan juga ada pengisi acara, musik, perias, foto, tari hingga makanan, kami terdampak semua,” kata Disa, Kamis (22/7).

Disa mengatakan, dua bulan lalu ketika ada pelonggaran, pengusaha katering bisa sedikit bernapas lega karena sudah mulai ada acara resepsi pernikahan, meskipun jumlahnya dibatasi.

Namun, tak lama pemerintah kembali menerapkan PPKM Darurat akibat kasus Covid-19 melonjak. Dia menyayangkan karena selama ini, pengusaha katering dan pernikahan tidak dilibatkan untuk memberikan masukan dalam menerapkan kebijakan.

Akibatnya, sejumlah acara dibatalkan dan menelan kerugian. Padahal semua tim dan anggotanya sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Namun, mereka tetap harus mengikuti arahan pemerintah. Ia berharap, pemerintah bisa memberikan solusi untuk para pengusaha katering.

“Dulu pegawai saya ada sekitar 100 orang, itu termasuk yang lepas dan pegawai bergaji tetap. Sekarang, akibat pandemi ini, saya tinggal berempat. Tahun lalu masih kuat saya membayar gaji walaupun setengah, tapi sekarang sudah nggak bisa. Nggak ada kerjaan sama sekali,” ujar dia.

Bahkan, untuk mengembalikan uang klien yang membatalkan acaranya, ia harus menjual mobil operasional dan barang-barang. Demi bertahan, katering yang ia jalani beralih melayani pesanan online.

Namun dengan PPKM yang berlaku saat ini, ia kesulitan mengantar pesanan karena banyak jalan yang ditutup. Tantangan lainnya, yaitu pelaku usaha katering ini mayoritas adalah kaum hawa yang mengalami kesulitan memasarkan di media sosial.

Akhirnya, PPJI membuat daftar penyedia jasa katering untuk warga yang melakukan isolasi mandiri.

“Kita buat list itu. Akhirnya share di media sosial dan dapat respons yang baik dari Disbudpar, meskipun pesanan hanya 5 kotak. Saya selalu bilang jangan melihat jumlahnya, siapa tau yang sedikit ini akhirnya bisa membuat bertahan hidup, dan usaha menjadi lebih kuat. Jangan sampai usaha ini mati karena situasi,” jelasnya.

Disa selalu memberikan contoh restoran cepat saji yang juga menutup banyak gerai hingga rela berjualan di pinggir jalan untuk tetap bertahan.

“Memang kondisinya berbeda. Tapi untuk katering yang masuk ke pabrik atau ke rumah sakit, mereka masih tetap jalan. Tapi kan mereka juga pasti ada pengurangan, dan tidak bisa berbagi juga ke katering yang lain,” pungkasnya. dt