loader image

Berkah Idul Adha, Penjual Sapi di HST Untung Setengah Miliar

F:\ARSIP WEBSITE MATA BANUA\2021\Juli\15 Juli 2021\6\Penjual Sapi di HST Untung Setengah Miliar.jpg
SUKSES – Syahruji, warga Kelurahan Pantai Hambawang Barat, Kecamatan Labuan Amas Selatan, yang menjadi pengusaha sukses melalui jual beli sapi di Kabupaten HST. Ia sendiri mengeluti usaha ini sejak masih muda atau hampir 20 tahun.

BARABAI – Mendekati hari raya idul adha 1442 H, menjadi keberkahan sendiri bagi para penjual sapi untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban. Salah satunya, Syahruzi (52), warga Kelurahan Pantai Hambawang Barat, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Syahruzi bisa meraup keuntungan hingga Rp 500 juta atau setengah miliar lebih, dari hasil menjual sapi kurban. Saat ditemui di kediamannya, Selasa (13/7), Syahruzi menceritakan menggeluti usaha bisnis sapi tersebut sudah hampir 20 Tahun.

“Kalau masuk musim kurban seperti ini, saya memesan sapi dari Pulau Sulawesi dan Pelaihari (Kabupaten Tanah Laut), untuk memenuhi pesanan berbagai daerah di Kalsel hingga Kalteng dan Kaltim,” katanya.

Ia memastikan, sapi kurban yang didatangkannya dari luar Kalimantan semuanya sehat. “Sebelum masuk ke  wilayah kita, sapi-sapi telah diperiksa, bahkan diambil sampel darahnya oleh petugas dan mendapatkan Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait,” katanya.

Ia menambahkan, mendekati hari raya idul adha ini, sudah ada 400 ekor sapi kurban yang dipesan warga. Mulai dari jenis sapi putih (peranakan ongole) hingga sapi Bali.

“Terlaris memang jenis sapi Bali, harganya mulai Rp 10,5 juta sampai Rp 37 juta, tergantung besar atau berat sapinya. Kalau di Kalsel, paling banyak pesan sampai 100 ekor adalah warga Amuntai,” kata Uzi panggilan akrabnya.

Tahun ini, permintaan sapi kurban meningkat dari Tahun sebelumnya. Bahkan, walaupun rata-rata sapinya sudah dipesan, tetap ada warga yang datang mencari untuk membeli. “Karena kasihan, warga yang datang tetap saya layani dan dicarikan sapinya, agar mereka nantinya juga bisa memunaikan ibadah kurban,” ujarnya.

Baca juga :  Indonesia Impor Listrik dari Malaysia

Kalau untuk perawatan di kandang sapi, Uzi mempekerjakan sebanyak empat orang warga sekitar. Sedangkan, yang mencari rumput untuk makanan sapi ada 60 orang. Pencari rumput dibayar per kilo. Harga satu kilo rumput 500 rupiah.

Sedangkan, kebutuhan rumput untuk makanan sapi sebanyak 400 hingga 500 ekor, ia memerlukan sekitar 8 Ton lebih rumput. Jadi, per harinya Ia mengeluarkan uang sebesar Rp 4 juta membayar para pencari rumput.

Berkat Uzi, warga sekitar dan beberapa warga desa lain, dapat bekerja kepadanya dan meningkatkan perekonomian. “Pendapatan mereka dari Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Kalau lagi rajin-rajinnya dan semangat bekerja dapat banyak mencari rumput,” katanya.

Terkait omsetnya per musim kurban ini, ia agak malu menyebutkan. “Dalam satu ekor sapi kurban, keuntungannya ada yang Rp 500 ada pula Rp 1 juta per ekornya. Tertinggi sampai Rp 3 juta, jadi silahkan kali sendiri kalau sebanyak 400 ekor,” candanya sambil tertawa.

Kalau rata-rata Rp 1 juta saja, keuntungan yang didapat Uzi dikalikan 400 ekor, maka omsetnya Rp 400 juta per musim, belum lagi jika keuntungannya lebih dari satu juta, diperkirakan mencapai setengah miliar lebih. ant