loader image

Demokratisasi Ide Membangun Ekosistem Kolaborasi

Oleh : Viggo Pratama Putra, Founder Komunitas Solok Literasi

Dalam penjelasan paling sederhana, penulis berpendapat bahwa bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada kondisi dilematis ketika memandang masa depan, banyak orang-orang hebat Indonesia kebingungan untuk menyalurkan ide-ide dan gagasannya ke dunia luar. Meminjam bahasa dari seorang Gita Wirjawan, proses sinkronisasi antara ide-ide dan gagasan dengan platform pengembangannya yang visioner ini dikenal dengan istilah “Pipanisasi”.

Bicara masalah sebuah karya, artinya kita berbicara mengenai adanya tindakan penciptaan. Berhubung penulis masih merupakan golongan anak muda, secara empirik banyak diantara anak-anak muda yang penulis ketahui ternyata memiliki progresifitas yang luar biasa dalam mengkonsepkan sebuah ide dan gagasan. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika ide-ide segar tersebut hanya menjadi makanan pribadi dan cenderung tertutupi.

Masalah lain muncul ketika banyak orang yang sesungguhnya berkeinginan untuk mempublikasi ide-ide dan gagasan dalam bentuk sebuah karya, namun si empu-nya ide ini masih belum percaya diri di karenakan masih adanya ketakutan-ketakutan jika ide tersebut ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, atau takut kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal kepercayaan diri adalah proses awal yang amat penting dalam menciptakan sebuah karya.

Jika kita bicara masalah angka, dan mengukurnya dengan mengeneralisasi semua negara-negara di dunia, hingga saat ini karya-karya anak bangsa belum ada yang mampu menembus sekelas Piala Oscar, pun dengan penghargaan bergengsi di bidang keilmuan, Nobel. Mayoritas pemenang-pemenang penghargaan bergengsi tersebut masih berkutat di benua Eropa dan Amerika. Sangat di sayangkan, diumur yang hampir menginjak 76 tahun ini Indonesia belum mampu untuk terlalu berkiprah luas dan bersaing di tingkat Internasional.

Baca juga :  Pajak, Ekploitasi Negara Terhadap Rakyat!

Padahal kalau saja anak-anak bangsa mau untuk kembali merefleksikan diri, dengan segala sumber daya alam hingga sumber daya manusia yang berlimpah, maka kita akan menyadari bahwa bangsa Indonesia sekarang bukan sedang bermain di level terbaiknya. Hasil dari sensus penduduk pada tahun 2020 lalu saja menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 70,72% dari keseluruhan total jumlah penduduk Indonesia yang berpenduduk 270,20 juta, atau jika diangkakan mencapai hingga lebih dari 191 juta orang.

Dominasi penduduk Indonesia yang dihuni oleh kebanyakan kelompok generasi Z dan milenial seharusnya dapat memberikan dampak multiplier effect terhadap kemajuan di segala bidang, utamanya dalam berkarya. Dengan jumlah usia produktif yang berlimpah dan didukung oleh inklusifitas digitalisasi ilmu pengetahuan dewasa ini, rasanya tidak sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu mencetak sejarah-sejarah baru bagi peradabannya bukan?

Bangsa Indonesia memiliki previllage dalam segala hal, mulai dari sumber daya manusia dan alamnya yang berlimpah, dari segi budaya kita memiliki keragaman yang terangkum dalam persatuan Pancasila dan dapat bertahan harmonis dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal menjadi modal penting untuk bangsa ini bisa mencetak bibit-bibit unggul kelas dunia. Secara logika sederhana, keragaman entitas dan budaya yang kita miliki di setiap daerah tentu berkorelasi dengan kekayaan ragam corak berpikir individunya.

Dalam arti yang sesungguhnya, ternyata kita selama ini tidak pernah kekurangan resources dalam berkarya. Namun beberapa hal yang masih menjadi dilema dalam konsen untuk berkarya ini ialah kita belum sepenuhnya bisa menghubungkan ide-ide dan gagasan dengan pipa pengembangannya, dalam arti sederhana kita butuh banyak narator untuk bisa menarasikan betapa hebat dan luar biasanya karya-karya dari buah ide anak bangsa. Dalam podcastnya, Gita Wirjawan pernah menyebut bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan narasi, kita hanya kekurangan narator.

Baca juga :  Model Pembelajaran PBL Sangat Cocok Diterapkan Pada Masa Sekolah Daring

Jika kita tarik lagi problematika dilema yang penulis defenisikan diatas, kita mendapatkan poin permasalahannya berada pada persoalan belum adanya pengelolaan dan pengembangan ekosistem yang baik sehingga ide-ide dan gagasan tadi terhambat atau istilahnya mampet. Seandainya manusia-manusia di negeri ini melebarkan cara berpikirnya sedikit lagi, dalam konteks permasalahan ini kita butuh ekosistem untuk bertumbuh dan mencetak karya-karya luar biasa dalam piranti kelas wahid.

Terlebih akhir-akhir ini santer terdengar pembahasan mengenai Indonesia Emas 2045. Tepat di 100 tahun umur bangsa ini, terlepas dari banyaknya pekerjaan rumah yang belum beres, namun harapan terus disuarakan berbagai pihak. Optimisme akan lompatan jauh Indonesia di 2045 menjadi impian seluruh anak bangsa. Pegiat SDG’s Sumbar yang juga konsen dalam kajian Indonesia Emas 2045, Yulenri Arif Hidayat juga berasumsi bahwa sinkronisasi dan kolaborasi merupakan kunci utama menuju pintu gerbang Indonesia Emas 2045 tersebut.

Indonesia tidak bisa berdiam diri dan terus bermain di level bawah, Indonesia harus bermain sesuai dengan levelnya. Dan bagaimanapun itu, kita harus punya formulasi untuk bisa berdiri di panggung dunia dengan mencetak prestasi-prestasi hebat yang bersumber dari anak-anak bangsa. Hal pertama yang wajib kita bangun ialah mentalitas juara kelas dunia, mental menjadi langkah awal untuk memantik kepercayaan diri dalam mencari inovasi-inovasi hebat. Kreatifitas dan inovasi sering lahir dari orang-orang bermental juara.

Baca juga :  Perikanan Tetap Positif saat PPKM Darurat

Selain mental, hal mendasar yang dapat kita lakukan adalah merubah paradigma pada anak-anak muda Indonesia. Paradigma bertumbuh akan mencetak mindset positif, secara tidak langsung cara ini akan berpengaruh signifikan terhadap jangkauan penyebaran ide dan informasi yang luas. Dalam sebuah kutipan bijaknya, Eleanor Roosevelt mengatakan, “Orang hebat berbicara mengenai ide-ide, orang biasa bicara tentang kejadian, dan orang kecil berbicara tentang orang lain”.

Dengan memperbanyak percakapan mengenai ide-ide visioner, secara tidak langsung ini dapat menghubungkan antara pemilik-pemilik ide lain melalui platform pengembangan dengan lebih mudah. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak no. 4 di dunia, dan negara demokrasi no. 3 dunia, disamping itu bangsa Indonesia juga harus bisa mendemokratisasi ide-ide agar bisa berkembang dan menemukan corong kolaborasi sehingga karya-karya anak bangsa bisa lebih dikenal oleh dunia luar.

Dengan membangun prinsip-prinsip dan idealisme dalam diri, menanamkan paradigma dan mentalitas juara kelas dunia, serta menyuburkan gerakan kolaborasi didalamnya, maka sebuah ekosistem pencetak karya-karya hebat akan dengan mudahnya tercipta. Secara langsung dan sadar, tulisan ini penulis tujukan sebagai bentuk ajakan bersama untuk kita semua, muda ataupun tua, mari kita jemput ketertinggalan dengan berjalan bersama. Sedini mungkin, ayo kita buka ruang otokritik terhadap diri sendiri agar bisa merubah paradigma ketertinggalan menjadi sebuah batu lompatan.