loader image

Legit Bisnis Swab Antigen

JAKARTA – Seorang perawat rumah sakit mengunggah pesan di status aplikasi percakapan WhatsApp. Dia menawarkan jasa kunjungan perawatan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Termasuk jasa swab antigen. Biayanya Rp175.000 per orang.

Sebut saja nama perawat itu Anggi. Dia menjemput bola. Datang ke rumah warga yang membutuhkan swab antigen. Cara ini dikenal dengan istilah homevisit. Pesanan swab antigen di rumah diterima jika syarat jumlah dipenuhi. Minimal lima orang. Ada biaya tambahan untuk ongkos. Harga yang ditawarkan sudah termasuk alat antigen dan APD (Alat Pelindung Diri) tenaga swab atau biasa disebut swaber. “Tolong sediakan ruangan untuk ganti APD,” kata Anggi di ujung telepon.

Hari-hari terakhir, permintaan swab antigen di rumah cukup diminati. Layanan ini merespons kekhawatiran tingginya penularan Covid-19. Anggi harus mengatur jadwal melakukan swab antigen dari rumah ke rumah. Dia memberikan jaminan. Alat swab yang digunakan dipasok dari klinik. Hasilnya bisa dipertanggungjawabkan dokter.

Layanan jemput bola bermula dari tawaran seorang dokter. Anggi menyanggupi. Dia tak sendiri. Mengajak rekannya sesama perawat. “Ini pekerjaan sampingan. Rata-rata yang mau homevisit karena takut. Soalnya kasus makin melonjak. Ini di luar dugaan,” ucapnya.

Bukan hanya layanan swab antigen homevisit yang kini banyak dibutuhkan.

Dua baliho berukuran besar digantung di dinding gedung. Warna terang mencolok. Pesannya menyita perhatian. Berwarna putih dengan huruf kapital. ‘Swab Antigen 82 ribu, PCR 695 ribu’. Sementara baliho lain dengan warna dasar biru seolah ingin memberi jaminan pada warga. Pesannya ‘dijamin asli kemenkes (bukan daur ulang)’. Pelanggan menunggu mendapatkan layanan. Mereka berbaris cukup panjang di depan tenda putih.

Baca juga :  OJK Catat Realisasi Green Financing

Tak jauh dari tempat tersebut, ada juga tawaran layanan tes antigen. Tepatnya di RS Jakarta Medical Center (JMC). Sebuah spanduk besar digantung di dinding. Isinya informasi ketersediaan tes antigen beserta harga. Harga yang dipatok hanya Rp 84.00.

Berjalan beberapa ratus meter dari RS JMC, ada juga di sekitar Mampang Prapatan. Terdapat Klinik Pratama Medika. Di sana, layanan antigen bisa didapatkan dengan merogoh kocek Rp74.000. Letak klinik ini bersebelahan dengan klinik lain yang juga menawarkan layanan serupa. Hanya saja harga tes antigen tidak disampaikan.

Hadyan Rahmat, pemilik salah satu klinik di Kawasan Bekasi, menyadari perang harga tengah terjadi. Tak jauh dari kliniknya, ada yang menawarkan swab antigen harga murah. Sementara di klinik miliknya, harga masih tergolong wajar. Rp150.000 untuk satu kali swab. Dari sisi bisnis, perang jenis ini lumrah terjadi.

Rahmat mengetahui rahasia dapur tawaran swab antigen murah. Klinik berani memberi diskon harga swab lantaran mendapatkan alat antigen dengan harga murah. Dipasok dari agen pabrik yang selalu datang memberi tawaran. Bisa dalam paket besar maupun satuan. Dia memilih tidak ikut dalam ‘medan pertempuran’.

“Walaupun beli murah tapi harus ada jasa pengambil antigen dan jasa dokter. Jadi harga memang kita susah membanting,” kata Rahmat.

Sudah lama Koordinator Hukum dan Pengaduan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sularsih mengamati fenomena ini. Kepentingan bisnis berbalut layanan kesehatan. Tidak hanya perang harga di berbagai klinik. Tapi tengok juga di laman e-commerce atau belanja online. Produk swab antigen dijual bebas. Harganya miring. Ditambah embel-embel hasil diperoleh cepat. cnn/mb06