loader image

Memprovokasi Budaya Literasi

D:\Data\Juni 2021\1406\8\viggo pratama.jpg
Oleh : Viggo Pratama Putra, Founder Komunitas Solok Literasi

Faktanya, UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dari terakhir dalam persoalan literasi, ini menandakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dan bahkan cenderung memprihatinkan. Padahal salah satu tools bagi Bangsa Indonesia untuk bisa melesat lebih jauh dalam kontestasi persaingan global ialah peningkatan kemampuan dan kemauan literasi dari masyarakatnya.

Masyarakat dunia (global society) telah banyak meninggalkan berbagai cara pemikiran kolot yang dahulu dilakukan namun tidak lagi relevan dengan waktu sekarang. Seperti halnya dahulu orang berkomunikasi jarak jauh dengan surat sekarang sudah memakai handphone. Dulu orang-orang berpikir bagaimana menciptakan sekarang pola pikir bagaimana mengembangkan. Pola pikir berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun terkadang disanalah tantangan yang begitu besar hadir menghampiri pemikiran setiap orang.

Banyak orang yang cenderung lebih suka bermalas-malasan, munculnya kecenderungan mengutamakan kepentingan terhadap diri sendiri di atas kepentingan bersama, memudarkan sikap solidaritas dan kesetiakawanan sosial, musyawarah mufakat, gotong royong, dan banyaknya generasi muda yang sudah melupakan para pejuang serta jati diri bangsanya dengan fenomena baru, yaitu lebih mengenal dan mengidolakan artis, bintang film, dan pemain sepak bola asing yang ditiru dengan segala macam aksesorisnya, hingga banyaknya masyarakat yang sudah acuh tak acuh terhadap ideologi atau falsafah negaranya, terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini.

UNESCO sendiri pada tahun 2003 menyatakan bahwa “Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. “Di dalam pasal 1 ayat (4) Undang-undang nomor 3 Tahun 2017 tentang Perbukuan juga dibunyikan bahwa: Literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Baca juga :  LPEI Bantu UMKM Tembus Pasar Global

Walau pengertian literasi sudah berkembang, aktivitas membaca dan menulis merupakan hal yang paling mendasar dalam literasi. Mengapa demikian? Karena dalam memilih dan memilah informasi tentunya dilakukan dengan membaca. Dan aktivitas membaca hanya dapat dilakukan jika ada bacaan yang notabene merupakan karya para penulis. Dan sekarang ini sudah banyak objek studi yang membahas tentang literasi, bahkan berhubungan dengan studi budaya dan berhubungan dengan dunia sosial. Seperti yang kita tahu bahwa budaya dan bahasa itu suatu kesatuan yang tidak pernah terpisahkan.

Semakin tinggi literasi di suatu negara, maka semakin bagus budaya di negara tersebut. Contohnya ciri negara yang memiliki literasi yang tinggi itu dapat menjadikan lingkungannya lebih baik, terbebas dari sampah, dan nyaman. Dengan adanya ciri lingkungan seperti itu terbentuk karena adanya apresiasi masyarakat sosial yang baik. Masyarakat mampu bekerja sama satu sama lain, dan itu membuktikan hubungan antara literasi, budaya dan dunia sosial. Setiap orang pasti mempunyai potensi dan kemampuan di dalam dirinya. Potensi itu dapat dikembangkan oleh diri kita sendiri serta dorongan literasi akan sangat membantu dalam mendorong pengembangkan potensi dalam diri kita.

Namun yang juga menjadi tantangan ataupun persoalan yaitu tingkat minat baca yang begitu rendah di Indonesia, Penelitian yang dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama The World’s Most Literate Nations, menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah sebagai ranah eksekutor maupun masyarakat sebagai objek yang dituju.

Baca juga :  Terkendala Juknis, Gaji Nakes Tertahan

Bentuk solutif yang dapat ditawar ialah menciptakan era literasi semenjak diri, salah satunya dari masa- masa sekolah yang mempunyai cara untuk membangun literasi dengan adanya perpustakaan yang dapat menunjang siswa-siswi sebagai upaya mengembangkan kemampuan membaca. Dalam proses belajar mengajar, guru juga tidak terlepas melatih peserta didik untuk berfikir inovatif, kreatif, dan aktif. Serta ditunjang dengan bacaan yang dapat menjadikan peserta didik memiliki budaya literasi yang tinggi. Sebab bila memiliki literasi yang tinggi dapat menjadikan negar ini maju dan berkembang dan pastinya dapat bersaing dangan dunia luar dalam sektor pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial.

Selain itu setiap perubahan juga harus dibarengi dengan kesiapsiagaan terhadap segala sesuatunnya. Karena dalam perubahan pasti ada yang namanya impact positif maupun negatif. Dengan menghadirkan literasi dalam upaya merawat pemikiran sehingga pola pikir terjaga serta siap menghadapi perubahan, akan menciptakan ruangan yang memfilter setiap pengaruh yang masuk. Budaya literasi sejatinya harus ditanamkan semenjak sedini mungkin agar generasi-generasi bangsa kedepan dapat menjadi generasi yang memang benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan bangsanya sehingga kita mampu berkompetisi serta menghadirkan sikap kolaborasi demi kemajuan bersama.

Tidak sampai disitu, upaya-upaya memecah belah persatuan bangsa melalui isu-isu radikal juga dapat diminimalisir karena sikap kritis dalam berpikir yang diterapkan tiap individu maupun kelompok. Dengan menghidupkan kembali sarana-sarana diskusi aktif, membuka wawasan melalui bacaan maupun menulis, niscaya bangsa Indonesia akan mengembara ibaratkan kapal kokoh dengan awak-awak yang handal dan profesional.