loader image

Gas 5,5 dan 12 Kg Ikut Langka

DOYO PUDJADI

BANJARMASIN – Kelang­kaan gas elpiji di Kota Banjar­masin, ternyata bukan saja tabung gas isi 3 kilogram, tetapi 5,5 dan 12 kilogram juga menghilang di pasaran.

Pemerintah Kota (Pem­ko) Banjarmasin melalui Asis­ten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Doyo Pudjadi pun angkat bicara terkait kelangkaan gas elpiji tersebut.

Doyo mengatakan, untuk menyikapi masalah itu, pihak­nya sudah melakukan komu­nikasi dengan pihak Pertamina. Bahkan sudah mendapatkan penjelasan mengapa sampai bisa terjadi kelangkaan tidak hanya elpiji 3 kg, tapi juga 5,5 dan 12 kg.

Ternyata, ujar Doyo, biang kerok kelangkaan ini yakni suplai ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) terganggu, akibat akses jalan rusak akibat banjir, khususnya distribusi yang melewati Jalan Lingkar Utara.

“Itulah jawaban dari pihal Pertamina, akses yang dilewati masih rusak, ditambah Jembatan Kayu ujung belum rampung,” kata Doyo kepada wartawan, Senin (22/2).

Doyo menegaskan, pihak Pertamina mengaku menyewa Landing Craft Tank (LCT) yang bertolak untuk membawa mobil tanki, dari stasiun Jembatan Barito hingga Pelabuhan Trisakti. Kemudian melakukan distribusikan ke SPBE yang ada di kawasan Jalan Lingkar Selatan.

Namun, hal ini tak serta merta bisa menangani kelangkaan, masih ada persoalan lain. Mengingat LCT yang membawa mobil tanki harus melewati sungai, secara otomatis tak bisa secepat menggunakan transportasi darat.

Walaupun demikian, pihak Pertamina sudah menambah jumlah mobil tanki untuk pengangkut elpiji tersebut, dari yang semula hanya lima unit mobil tanki, sekarang menjadi delapan unit.

“Unit itu disewa dari Kalteng. Harapannya, stok elpiji di Kota Banjarmasin, berangsur-angsur pulih, meski tidak sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga di Kota Banjarmasin,” tegasnya. edo