loader image

Dongkrak Pengembangan Pariwisata

PELATIHAN - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin Drs H Hamdan Roesyadie MSI saat membuka secara resmi pelatihan tatakelola homestay, selasa (01/12/2020).{{herman}}
PELATIHAN – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin Drs H Hamdan Roesyadie MSI saat membuka secara resmi pelatihan tatakelola homestay, selasa (01/12/2020).{{herman}}

RANTAU,- Dalam rangka membangun dan mengembangkan industri kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin melalui Bidang Pengembangan Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Pelatihan Tatakelola Homestay, selasa (1/12/2020) bertempat di Hotel Tapin.

Dibuka secara resmi oleh Drs H Hamdan Roesyadie MSI, acara pelatihan turut dihadiri Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tapin Drs H Hasanudin, Kepala Bidang Bidang Pengembangan Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hj Rahmiati SE, Pokdarwis, Aparat Desa serta 55 peserta pengusaha homestay yang ada di Kab. Tapin.

Dikatakan Hj Rahmiat dalam laporan yang disampaikannya, dalam mendukung Kabupaten Tapin dalam upaya meningkatkan kualitas destinasi wisata, Dinas Kebudayaan dan pariwisata menggelar pelatihan tatakelola homestay dengan tujuan.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal (1 s/ 3 Desember 2020) dimana hari kedua setelah acara pelatihan akan disampaikan oleh Panca Daru Wadyasto dan hari ketiga dilanjutkan dengan kunjungan ke objek wisata di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Locus Amandit Loksado Lestari).

Adapun nara sumber yang dihadirkan yaitu ME Iwan Satriansyah SE Kepala Bidang Pembangunan dan Pengembangan Ekonomi Desa Dinas PMD Tapin, Ir Hj Jufrida Khairani Kepala Bidang Industri dan Kelembagaaj Pariwisata Disparprov Kalsel, Panca Daru Widyasto GM Aston Tanjung City Hotel dan Dewi Setyawati SE MM ketua Litbang DPD Asita Kalsel.

Sementara itu Kepala Disbudpar Tapin H Hamdan Roesyadi mengatakan, ditahun 2021 sesuai dengan target dari pemerintah pusat, Tapin sudah harus ada desa wisata. Pengembangan desa wisata itu salah satunya akan dibangun di sekitar Bendungan Tapin.

Salah satu cara membangun kepariwisataan yakni dengan pengembangan desa wisata, karena dengan pengembangan desa wisata masyarakat akan dapat menikmati hasil dari pembangunan desa wisata.

Karena itu mari dari sekarang setiap desa, mencanangkan desa wisata untuk membangun pariwisata daerah, agar potensi pariwisata desa tidak dikembangkan oleh investor yang nantinya masyarakat akan mendapatkan hasil sedikit dari pariwisata, itulah yang kita harapkan agar desa wisata dapat dibangun dari desa untuk masyarakat desa, karena itu mari kita memulai pengembangan desa wisata dengan pencanangan desa wisata,” Papar Hamdan Roesyadi dalam sambutannya.

Sementara itu ME Iwan Satriansyah SSos yang menjadi nara sumber acara pelatihan menekankan peran penting Bumdes dalam membangun dan mengelola desa wisata.

Dikatakannya, hal pertama yang dapat dilakukan masyarakat dalam membangun desa wisata ialah menggali seluruh potensi desa yang ada selanjutnya melalui forum musyawarah bersama, masyarakat dapat menyepakati dan memperkirakan konsep pengembangan wisata yang dapat diwujudkan.

Termasuk berinovasi dalam membuat paket wisata yag akan menjadi peran penting dalam mengelola desa wisata. Disinilah peran Bumdes dibutuhkan untuk ikut andil dalam pengembangan potensi desa,” paparnya.

Contoh objek wisata Puri Mataram, awalnya hanya lahan persawahan yang kemudian dikelola oleh Bumdes dengan cara menyewa lahan pertahun. Seiring berjalannya waktu dengan konsep pengembangan wisata yang jelas, Puri Mataram kini menjadi objek wisata unggulan yang dapat memberikan PADes sebesar Rp.140 juta pertahun serta dapat memberikan deviden bagi masyarakat yang ikut menanam saham dalam pengembagan kepariwisataannya.” tambah Iwan Satriansyah.{{her/mb03}}