loader image

HSU Berduka, Karena Wafatnya KH Ahmad Suhaimi

DISOLATKAN-KH Ahmad Suhaimi di salatkan di langgar dekat rumah beliau desa Pakacangan.{{yusuf}}
DISOLATKAN-KH Ahmad Suhaimi di salatkan di langgar dekat rumah beliau desa Pakacangan.{{yusuf}}

AMUNTAI – Berita duka datang dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) telah berpulang ke rahmatullah ulama sekaligus guru di Pondok Pesantren Rasyidah Khalidiyah (Ponpes Rakha Amuntai) KH Ahmad Suhaimi usia 79 tahun.

Sangat mengejutkan para pencinta ulama dan para santri, merasa kehilangan sosok ulama karismatik seperti beliau yang selalu mendidik santri di ponpes Rakha Amuntai maupun memberikan petuah agama pada masyarakat.

Almarhum disemayamkan di Alkah Keluarga Desa Pakacangan Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Sebelum proses pemakaman, setelah sholat zuhur, jenazah dibawa ke langgar Nurul Muttaqin di Pakacangan untuk disholatkan. Sholat Fardhu Khifayah tersebut dilaksanakan sebanyak 12 kali secara bergantian, dikarenakan orang yang hadir dalam proses pemakaman tersebut ratusan lebih. Dan setelah sholat Ashar proses pemakaman pun dilanjutkan.

Setelah proses pemakaman selesai, dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk almarhum tersebut yang dipimpin oleh Dr.KH.Sabberan Effendi, KH Ahmad Bari, dan KH Husaini dilakukan secara bergantian. Hampir semua Guru – Guru dan Ulama – Ulama di Kabupaten Hulu Sungai Utara turut hadir dalam acara tersebut, dan juga masyarakat HSU.

KH. Ahmad Suhaimi, lahir di Pakacangan, Amuntai, Kamis, 2 Januari 1941 M (bertepatan dengan 3 Zulhijjah 1359 H). Beliau adalah guru para Qari terbaik. Dan karena keahlian beliau dalam seni baca al-Qur’an, beliau sering diminta untuk menjadi Dewan Hakim pada setiap pelaksanaan MTQ.

Setelah tamat dari Normal Islam Amuntai, lalu pada tahun 1961 mengikuti ujian PGA 6 tahun dan lulus, kemudian diangkat menjadi guru agama pada MI/SD. Pernah menjadi guru di SMP Negeri 1 Amuntai (1969-1976), hingga menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Normal Islam Putra (1993-2001). Sekarang beliau juga menjadi dosen STIQ Amuntai (1999-sekarang).

Diantara kalam beliau: Karena kesibukan seringkali kita lalai terhadap kewajiban, seringkali kita anggap remeh, sepele, kita anggap sederhana. Padahal kewajiban (beribadah, pen) kepada Allah adalah sesuatu yang utama dan perlu diutamakan, tidak boleh kita anggap enteng, tidak boleh kita tinggalkan. Tanda seseorang mensyukuri nikmat Allah yang banyak adalah dengan banyak melaksanakan shalat.

Kekuatan yang utama bagi orang Islam yang pertama adalah kekuatan iman, kemudian fisik, setelah itu baru kekuatan ekonomi dan yang lain-lainnya.”Hiasilah rumah kita dengan (bacaan) al-Qur’an, jangan dengan perabotan rumah tangga.” (suf/mb03)