loader image

Tak Mampu Bayar Sewa, 10.000 Warteg Hengkang dari Jakarta

JAKARTA – Penerapan PSBB im­bas pandemi Covid-19 men­do­rong pengusaha warung tegal (war­teg) hengkang dari Jakarta ke sejumlah daerah penyangga ibu­kota. Kondisi ini dipicu kian tak terjangkaunya kemampuan pe­la­ku bisnis warteg membayar tem­pat sewa usaha di lahan ibu kota.

“Kondisi saat ini jelas temen-te­men warteg mulai kesulitan mem­bayar sewa di Jakarta. Ini me­ngakibatkan banyak yang me­li­pir ke wilayah sekitar Jakarta, ka­ya Bodetabek (Bogor, Depok, Ta­ngerang, dan Bekasi) karena har­ga sewa yang lebih murah,” ujar Ketua Koordinator Ko­mu­ni­tas Warung Tegal Nusantara (Ko­wantara), Mukroni.

Hingga saat ini, total ada 10.000 warteg atau sekitar 25 per­sen yang mulai meninggalkan ibu ko­ta sejak PSBB jilid I di­te­rap­kan. Sebab, kebijakan tersebut di­te­ngarai sebagai penyebab tu­run­nya jumlah pelanggan secara dras­tis.

“Karena kan orang dibatasi un­tuk aktivitas di luar. Kayak kan­tor tutup, mal tutup, dan tem­pat yang banyak karyawannya ju­ga dibatasi operasionalnya. Ak­hir­nya pelanggan juga ga ada,” pa­parnya.

Sedangkan, biaya tempat usa­ha sewa tetap harus dibayarkan se­cara penuh oleh pemilik warteg di Jakarta. Adapun nilainya ber­ki­sar antara Rp 80 juta – Rp 100 juta untuk satu tahun sewa.

“Ini kan sulit untuk kita-kita pe­nu­hi. Maka kota di Bodetabek itu­lah yang sekarang diburu pe­milik warteg. Kan untuk sewa sa­tu tahun rata-rata Rp 25 juta, ja­di jauh lebih hemat,” paparnya.

Mukroni memprediksi tren mig­rasi warteg ke wilayah Bo­de­tabek akan semakin meningkat ke­de­pannya. Mengingat ini seba­­gai salah langkah preventif untuk men­yelamatkan kelangsungan usaha.

“Cara ini untuk bertahan aja su­paya ada kegiatan agar jalan usa­hanya. Karenakan kondisi eko­nomi juga belum pasti,” tu­kas­nya. lp6/mb06