loader image

Peneliti Indonesia Temukan Solusi Hentikan Wabah DBD

Peneliti Indonesia dan Australia telah melakukan uji coba pada teknik yang mereka yakini berpotensi memberantas virus dengue. Virus tersebut merupakan penyebab penyakit demam berdarah dengue atau DBD yang mematikan di Asia Tenggara dan belahan dunia lainnya.

Kasus infeksi virus dengue atau DBD setiap tahunnya terus meningkat. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) saja, pada 2019 tercatat kasus tertinggi yaitu 4,2 juta kasus, di mana sebelumnya pada 2010 ada di angka 2,4 juta. Dapat dikatakan bahwa setengah populasi dunia berisiko tertular penyakit ini di masa depan.

Menurut laporan South China Morning Post, peneliti menyuntikkan nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri alami yang disebut Wolbachia. Upaya ini terbukti mampu menghalangi kemampuan serangga untuk menularkan virus termasuk demam berdarah tanpa menekan populasi nyamuk.

Peneliti berasal dari Universitas Monash Australia yang terlibat dalam World Mosquito Programme (WMP) dan mitranya di Indonesia, Tahija Foundation dan Universitas Gadjah Mada, terbukti telah menginfeksi nyamuk dengan Wolbachia selama tiga tahun terakhir dan pada Agustus lalu merilis hasil uji cobanya yang dilakukan di Yogyarakta.

Lebih jelasnya, hasil penelitian ini memperlihatkan penurunan yang signifikan dalam jumlah kasus DBD yang dikonfirmasi di Yogyakarta, tempat uji coba dilakukan, dibandingkan dengan daerah yang hanya mengandalkan tindakan pengendalian demam berdarah rutin.

Metode rutin tersebut antara lain pemantauan oleh pejabat pemerintah daerah yang tinggi membuang sampah dengan tujuan melihat populasi nyamuk, dan pengasapan (fogging) untuk menghilangkan serangganya.

Untuk melaksanakan proyek Wolbachia ini, 12 wilayah Yogyakarta ditunjuk secara acak. Lalu, nyamuk yang sudah disuntikkan Wolbachia dilepasliarkan selama tujuh bulan dengan bantuan masyarakat lokal. Menurut hasil pantauan, serangga ini berkembang biak dengan populasi lokasl, menginfeksi sebagian besar nyamuk di setiap area dengan bakteri.

Lalu, para ilmuwan memantau jumlah kasus demam berdarah di seluruh kota. Memberikan persetujuan kepada pasien yang menunjukkan tanda dan gejala demam berdarah memberikan rincian di mana mereka tinggal dan di mana mereka bepergian. Kemudian mereka diuji untuk menentukan apakah mereka tertular penyakit tersebut atau tidak.

Dua tahun kemudian, para ilmuwan menemukan penurunan 77 persen insiden demam berdarah di daerah tempat nyamuk terinfeksi Wolbachia. Hasil rinci penelitian ini direncanakan akan dipresentasikan pada konferensi ilmiah internasional pada November mendatang dan diterbitkan dalam jurnal peer-review.

Di sisi lain, WMP mengatakan bahwa Wolbachia secara alami ditemukan di dalam sel 60 persen spesies serangga di planet ini, termasuk ngengat, kupu-kupu, dan beberapa spesies nyamuk. Namun, bakteri ini biasanya tidak ditemukan di nyamuk Aedes aegypti.

Terkait dengan masifnya kasus demam berdarah, WMP menjelaskan ada dua faktornya, pertama nyamuk Aedes aegypti cenderung hidup di dekat perkotaan, dan seiring dengan pertumbuhan populasi kota, nyamuk memiliki peluang untuk makan dan berkembang biak dengan baik.

Alasan keduanya ialah perubahan iklim yang memperluas jangkauan nyamuk lebih jauh ke utara, yang nantinya akan muncul kasus demam berdarah pada wilayah yang sebelumnya tidak pernah ada kasus demam berdarah.

“Faktor lain pun memainkan perannya, misalnya saja perencanaan kota yang buruk, layanan dan infrastruktur publik yang tidak memadai, seperti kurangnya akses ke air leding, dan pertumbuhan perjalanan dan perdagangan yang mana ini semakin menciptakan kondisi lingkungan yang baik untuk si nyamuk berkembang biak,” kata Rachel Lowe, seorang profesor dan Royal

Society Dorothy Hodgkin Fellow yang berbasis di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Ia pun menegaskan bahwa peningkatan gas dan rumah kaca pun memainkan peran di pertumbuhan populasi nyamuk Aedes aegypti.

Tidak hanya itu, peningkatan suhu pun meningkatkan kecepatan replikasi virus, kelangsungan hidup vektor, reproduksi, dan tingkat menggigit yang dapat menyebabkan musim penularan yang lebih lama.

Belum berhenti di sana, perubahan iklim juga mendorong perubahan curah hujan rata-rata dan dalam frekuensi serta besaranya kejadian terkait iklim ektrim, termasuk banjir dan kekeringan yang dapat mengubah waktu wabah penyakit.

Soal angka kasus, dalam setahun infeksi dengue ini bisa sampai 390 juta infeksi, dengan 96 juta di antaranya pasien gejala DBD. Ya, gejala DBD ini berkisar dari mual dan muntah hingga ruam, nyeri, dan rasa sakit di tubuh. Pada kasus parah, pasien DBD akan mengalami kekurangan oksigen, perdarahan yang hebat, bahkan kematian jika tidak ditangani dengan segera dan tepat.

Di sisi lain, karena penelitian ini mengharuskan pelepasliaran nyamuk di masyarakat, ternyata ada masalah lain yaitu kepercayaan publik. Ya, dikatakan WMP, dukungan yang sangat besar akan memaksimalkan hasil uji cobanya.

“Karena itu, diperlukan dukungan dan kolaborasi dari penduduk setempat, sehingga terbangun kepercayaan yang mendasar,” terang Profesor Cameron Simmons, direktur WMP di Oseania dan ketua penyelidik untuk uji coba ini.

Salah satu kunci dari keberhasilan penelitian ini adalah edukasi yang tak kenal lelah pada masyarakat menyoal bakteri Wolbachia yang diusuntikkan ke nyamuk.

“Dari penelitian ini, akan dilakukan pengujian lebih besar lagi dengan sasaran 75 juta orang di seluruh dunia selama lima tahun ke depan,” kata Janina Khayali, direktur WMP untuk Amerika. Ia pun yakin bahwa teknik ini dapat diterapkan di Amerika Latin dan Asia secara lebih luas.okz/ron