loader image

Trend Perkawinan Zaman Now

Anak Memaksa Orang Tua

oleh : 
Drs. H. Saubari, M.Pd.I
Kepala KUA Kec. Kertak Hanyar Kab. Banjar

Beda zaman, beda trendnya. Zaman dulu anak dijodohkan oleh orang tuanya, zaman sekarang anak sangat berkuasa menentukan sendiri dengan siapa dia akan menikah. Bahkan, banyak anak muda sekarang yang memaksa orang tuanya  agar menikahkan dengan pasangan pilihannya sendiri .

Inilah fenomena sosial yang berhasil dipetakan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI)  Kabupaten Banjar akhir September 2020 melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema Dampak Pemberlakuan  “UU Nomor 16 tahun 2019 tentang Peru­ba­h­an terhadap  Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Per­ka­win­an”.

Meskipun hanya memetakan trend dan kecederugan pola pernikahan di Kabupaten Banjar tetapi cukup me­m­be­ri­kan gambaran tentang telah terjadinya per­geseran ; dari orang tua memaksa anak, berbalik menjadi anak memaksa orang tua.

Dipompa Media (Sosial)

Harus diakui, pengaruh media elektronik seperti tayangan film, sinetron, internet dan  keberadaan media sosial, telah merubah banyak hal termasuk pola kecenderungan per­ni­kah­an. Selain itu, lahirnya beberapa aturan hukum seperti Undang Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Undang Undang anti KDRT) juga turut mempengauhi secara sig­ni­fi­kan terjadinya perubahan pola tersebut. 

Menurut Crish Garret (2016), media sosial adalah alat, jasa dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang dan memiliki peminat yang banyak, tidak terkecuali para remaja. Bahkan  anak-anak usia dibawah umur, pun sudah memiliki akun media sosial pribadi.

Munculnya berbagai macam media sosial memberikan pengaruh langsung baik positif maupun negatif. Perkembangan media sosial sangat pesat karena semua orang bisa memiliki media sendiri.

Jika untuk media tradisional seperti koran, televisi, atau radio dibu­tuh­kan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka berbeda sekali dengan media sosial. Pengguna media sosial secara mudah bisa mengakses meng­gu­na­kan jaringan internet dengan biaya yang relatif kecil dan dilakukan sendiri dengan sangat mudah dan sangat privacy.

Misalnya, remaja yang mengaksis situs-situs porno melalui gadget milik pri­ba­di­nya, dilakukan dikamarnya atau sambil duduk diberanda atau di ruang tamu atau di meja belajar, bergaya seakan akan sedang belajar melalui online padahal sedang berselancar situs porno. 

Sebagai pengguna aktif terbanyak setiap harinya, remaja yang menerima secara langsung pesan atau informasi yang berseleweran di media sosial, itu pada akhirnya membentuk opini mereka. Baik dan buruk, layak atau tidak layak, boleh atau tidak boleh dilakukan, sedikit banyak dipersepsi oleh materi-materi yang mereka terima  dari media sosial tersebut.

Belum sempurnanya kematangan pemikirian remaja menyebabkan mereka sangat rentan terpapar pengaruh negatif ditambah lagi perkembangan kejiwaan dimasa remaja yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Disinilah letak bahayanya. Media sosial yang  merupakan wadah bagi remaja untuk menuangkan kebebasan berekspresi, baik itu bentuk gambar ataupun pesan-pesan, banyak diantaranya justeru mengandung konten menyesatkan dan merusak moralitas mereka.

Informasi yang tersebar melalui media sosial yang disimak secara rutin akan mengarah kedalam pembentukan opini dikalangan remaja. Salah satu contohnya, sebuah official account, misalnya, selalu mengutip halaman yang isinya hanya membahas mengenai manisnya hubungan pacaran, gambaran seorang pacar yang ideal, dan lainnya.

Rutinnya aku itu memposting pesan-pesan bertema pacaran, sex dan atau yang mengarah kepada sex, akan mengarahkan fokus perhatian remaja hanya kepada hal-hal yang belum saatnya mereka lakukan dan itu pada akhirnya sangat mempengaruhi pola piker dan tindakan mereka.

Sebut saja pornografi. Masalah yang satu ini betul-betul menjadi momok dan tantangan sangat berat bagi orang tua dan pendidik, khususnya para guru agama dan da’i. Upaya pengawalan moral, pe­na­nam­an dan pembentukan nilai-nilai keimanan dan karakter diri, acapkali  kalah cepat dan kalah kuat.

Pornografi sangat masif dan gesit masuk ke ruang ruang pribadi remaja tanpa terdeteksi dan terkawal. Dengan kecepataya yag luar biasa, internet telah menyebabkan pornografi mewabah dan merajalela di kalangan anak dan remaja. Inilah diantaranya hal hal yang telah menyebabkan terjadinya perubahan pola tersebut.

Harus kita akui, remaja kita saat ini setiap hari birahinya dipompa oleh media sosial dan internet dan hal itu memberi dampak sangat besar pada perubahan pola prilaku mereka, termasuk dalam pola pergaulan/ pacaran,  perjo­doh­an dan pernikahan. Ketika birahi mereka  sudah “kebelet” disinilah pola pemaksaan terhadap orang tua akan terjadi.

Pola Pemaksaan

Ada banyak pola pemaksaan anak terhadap orang tua dalam pernikahan zaman sekarang, mulai dari cara-cara halus, kasar, mengancam bahkan sampai kepada mengultimatum. Posisi tawar orang tua dalam perjodohan dan per­ka­win­an anak, saat ini sudah semakin lemah dan terkesan dilemahkan.

Misalnya, ketika orang tua tidak setuju degan calon menantunya atau tidak setuju karena usia anak yang masih belia, orang tua tidak berdaya untuk bertahan dengan ke­ti­dak­se­tu­juannya. Hal ini karena adanya per­lin­du­ng­an hukum bagi anak untuk menikah dengan seseorang yang menjadi pilihanya sebagaimana diatur dalam UU Nomor 39 tahun1999 tentang Hak asasi Manusia (HAM) Pasal 10 ayat (2) ; Perkawinan yang sah hanya dapat berlangsung atas kehendak bebas calon suami dan calon istri yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan perundang undangan.

Apabila anak sudah mencapai umur 21 tahun tetapi orang tua tidak merestui, ada lagi celah hukumnya yaitu menikah berwali hakim, dimana si anak menga­ju­kan penetapan keadholan/ ketidaksetujuan wali nikah ke Pengadilan Agama setempat sehingga pernikahan tetap dapat dilak­sa­na­kan dengan berwali hakim (Kepala KUA) seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan atas UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawian dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 23 ayat (2) serta PMA Nomor 20 tahun 2019 tentang Pencatatan Nikah Pasal 13 ayat (2) dan (3).

Bahkan, terhadap anak yang usianya di bawah 19 tahun atau di bawah umur, dimana undang undang mensyaratkan adanya izin tertulis dari orang tua dan izin atau dispensasi menikahkan anak di bawah usia 19 tahun dari Pengadilan Agama,  si anak tetap dapat mengajukan penetapan keadholan wali sekaligus dispensasi menikah di bawah umur secara akumulatif (bersama-sama dalam sekali pengajuan) ke Pegadilan Agama setempat.

Aturan-aturan ini, secara akumulatif telah melemahkan bargaining posisation orang tua dalam  hal perkawian anaknya. Ini belum ditambah dengan hadirnya beberapa perudang undangan terkait anak seperti Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Peng­ha­pus­an Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Undang Undang anti KDRT).

Ketika anak memahami betapa kuat hak anak dalam menentukan pasangan hidup, sedangkan nilai-nilai agama dan moralitasnya sudah tergerus, disinilah pola pemaksaan terhadap orang tua terjadi.

Mereka tidak merasa risih berpacaran secara terbuka bahkan mempertontonkan kemesraan di depan umum, karena pola berpacaran seperti itu sudah lajim di media sosial bahkan diantara rekan-rekan mereka. Orang tua yang kebetulan tokoh atau ditokohkan tentu risih dan merasa diper­ma­lukan.

Pola berpacaran  yang bebas dan memamerkan kemesraan, ini tentu saja mencemaskan. Orang tua mana yang tidak khawatir anaknya salah langkah dan akan mencoreng aib keluarga, misal hamil duluan atau menghamili pacarnya sebelum dinikahi.

Pada beberapa kasus, terungkap si anak malah dengan sengaja membuat dirinya hamil sehingga orang tua  tidak punya pilihan selain menikahkan. Juga terungkap ada anak yang mengancam orang tuanya dengan mengatakan akan nekat melakukan hal-hal yang diharamkan agama bila tidak dinikahkan.

Ada juga trik anak yang  mengaku hamil atau berpura pura hamil, sehingga orang tua kalang kabut dan tidak memiliki alternatif, meskipun awalnya kekeh tidak setuju dengan pilihan anak atau karena masih di bawah umur.

Kondisi seperti disebutkan diatas, menghadapkan orang tua head to head  dengan pandangan pemuka agama yang pada umumnya memberikan pendapat agar orang tua segera saja menikahkan. Orang tua berada diposisi tidak berdaya untuk menolak saran itu karena sangat kuatnya pengaruh tokoh agama tersebut.

FGD APRI Kabupaten Banjar akhir  September 2020 lalu juga mengungkap fakta para pemuka agama berperan sebagai match maker dan menggunakan alasan agama untuk menikahkan, meskipun sianak masih di bawah umur.

Terungkap juga fakta si anak perem­pu­an pulang larut malam atau diketahui sempat pergi berbilang hari dengan pacarnya, sehingga pada keesokan harinya oleh tokoh masyarakat dia harus dinikahkan. Padahal si ayah sangat ingin anaknya menjadi sarjana atau minimal menamatkan SLTA. Anehnya, ketika dijemput pulang, si anak malah tidak mau pulang dan minta segera dinikahkan.

Memang, media (sosial) tidak akan terlepas dari pengaruh positif maupun negatif. Dampak itu tergantung dari sipenggunanya sendiri. Walaupun masa remaja merupakan masa  sangat kritis karena memasuki masa pencarian transisi jati diri, namun mereka tentunya bisa membatasi diri dengan norma dan moral yang baik.

Pembentukan karakter sejak dini termasuk saat remaja sangatlah penting bagi masa depan diri remaja itu sendiri dan kepentingan yang lebih luar bagi masa depan bangsa. Remaja sebagai penerus bangsa yang memiliki karakter yang baik, kuat, dan tangguh tentunya akan bisa membuat Negara ini maju.

Tentu menjadi tanggung jawab kita bersama menyikapi perubahan pola ini secara bijak dengan lebih memperkuat ketahanan moralitas dan keberagamaan anak, agar mereka tidak mudah terpengaruh hiruk pikuk media sosial yang negatif.

Media sosial suatu keniscayaan dan tidak perlu dikutuk. Tanggung jawab kita maksimal manfaatnya untuk hal-hal yang berguna bagi perkembangan kecerdasan, keterampilan dan karakter anak-anak Bangsa.