loader image

Sempat Dua Bulan Naik, Ekspor Kembali Turun

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) men­ca­­tat, nilai ekspor Indonesia pada Agustus men­­ca­pai 13,07 miliar dolar AS, atau turun 4,62 persen dibandingkan bulan Juli. Pe­nu­run­an ini dialami setelah kinerja ekspor men­ca­tat­kan kenaikan pada dua bulan sebelumnya se­cara berturut-turut.

Menurut data BPS, pada Juni, ekspor tumbuh 15,09 per­sen (month to month/mtm) men­jadi 10,53 miliar dolar AS. Ki­ner­ja ekspor kembali naik 14,33 per­sen pada Juli (mtm) menjadi 13,73 miliar dolar AS.

Kepala BPS Suhariyanto me­ng­atakan, kinerja ekspor Agus­tus juga masih lebih rendah di­ban­dingkan tahun-tahun se­be­lum­nya. Pada Agustus 2018, ni­lai ekspor mencapai 14,44 miliar do­lar AS dan 13,42 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Suhariyanto menyebutkan, pe­nu­runan kinerja ekspor pada bu­lan lalu karena ekspor migas mau­pun nonmigas sama-sama me­ngalami penurunan di­ban­di­ng­kan Juli. “Migas turun 9,49 per­sen, sedangkan non migas 4,35 per­sen,” ujarnya dalam kon­fe­ren­si pers secara virtual, Selasa (15/9).

Penurunan ekspor migas di­se­babkan adanya penyusutan ek­spor hasil minyak, minyak men­tah maupun gas. Masing-masing me­ngalami kontraksi 4,02 per­sen, 56,89 persen dan 36,64 per­sen dibandingkan Juli.

Sedangkan, untuk nonmigas, pe­nu­runan terjadi karena be­be­rapa ekspor komoditas utamanya ju­ga menurun. “Seperti logam mu­lia, perhiasan/ permata, bahan ba­kar mineral, besi dan baja hi­ng­ga alas kaki,” tutur Su­ha­ri­yanto.

Kontraksi ekspor secara bu­lan­an terjadi pada semua sektor. Bah­kan, sektor pertanian yang bia­sanya mengalami pertumbuhan po­sitif, kini mengalami penurunan 2,37 persen menjadi 340 juta do­lar AS. Sebelumnya, pada Juni dan Juli, ekspor pertanian ma­sing-masih tumbuh 18,99 persen dan 24,10 persen.

Suhariyanto mengatakan, ban­yak komoditas ekspor per­ta­nian yang mengalami penurunan. Di antaranya, tanaman obat, aro­matik dan rempah-rempah, juga tem­bakau serta kopi dan mutiara ha­sil budidaya. “Itu me­n­ye­bab­kan pertanian mengalami pe­r­tum­buh­an ekspor yang negatif,” ka­tanya.

Industri pengolahan me­ng­alami kontraksi 4,91 persen di­ban­dingkan Juli, menjadi 10,73 mi­liar dolar AS. Beberapa ko­mo­ditas yang mengalami pe­nu­runan cukup dalam antara lain lo­gam dasar mulia, minyak kelapa sawit hingga sepatu olah­raga.

Sementara itu, sektor per­tam­bangan dan lainnya turun 0,28 per­sen menjadi 1,39 miliar dolar AS. Kontraksi lebih dalam terjadi se­cara tahunan, yaitu sampai 24,78 persen. Komoditas utama seperti batubara yang mengalami pe­nurunan harga menjadi faktor utamanya.

Tidak hanya bulanan, kon­trak­si pada kinerja ekspor juga ter­lihat secara tahunan (year on year/yoy). Penurunannya men­capai 8,36 persen dibandingkan Agus­tus 2019 yang men­ca­tat­kan nilai ekspor 14,26 miliar dolar AS. Ekspor migas mau­pun non­migas sama-sama me­ng­alami kon­traksi, yaitu 27,45 persen dan 7,16 persen. rep/mb06