loader image

LDII Gelar Rapimnas Secara Virtual

BANJARMASIN – DPP LDII menggelar Rapat Pimpinan Nasional 2020, dengan agenda utama memilih Pejabat (PJ) Ketua Umum yang sedang kosong, setelah Prof Dr Ir KH Abdullah Syam meninggal dunia pada Juli lalu. Rapimnas ini dilaksanakan secara virtual sesuai protokol kesehatan covid -19 dimana diikuti 482 titik.

Sekretaris DPW LDII Kal­sel, Budiono mengatakan, Rapimnas tersebut dilaksanakan pada 19-20 Agustus 2020 (Rabu dan Kamis). Tema yang diangkat yakni Kontribusi Berkelanjutan LDII untuk Indonesia Bangkit dan Maju, merupakan tindak lanjut hasil dari Rakernas LDII tahun 2018.

Agenda lainnya yakni DPP LDII beraudiensi dengan Menteri Agama Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi. Rombongan DPP LDII disambut langsung oleh Fachrul Razi didampingi oleh Dirjen Bimas Islam, Prof Kama­ruddin Amin, Sesdirjen Bimas Islam Taher, dan Sesmenag Khoirul Huda Basyir.

Menurut Budiono, mengutip dari Ketua DPP LDII Ir H Chriswanto Santoso MSc dalam pertemuan tersebut memaparkan kesiapan Rapimnas, yang sangat strategis bagi LDII, “Keber­lanjutan program LDII dalam membantu pemerintah dan kema­juan umat Islam, menjadi per­hatian LDII dalam Rapimnas,” ujar Chriswanto.

PJ Ketua Umum diama­nahkan untuk menggelar musya­warah nasional (Munas) dan melanjutkan program kerja DPP LDII ke depan. Pejabat ketua umum yang akan terpilih men­dapat kewenangan untuk ber­tindak atas nama organisasi secara penuh.

Menurutnya, Rapimnas LDII dihadiri kurang lebih akan dihadiri 34 DPW Provinsi dan 456 DPD kabupaten kota, dengan total peserta 2.500 orang.

Baca juga :  Pengisi Posisi Kepala SKPD Tunggu Rekomendasi Mendagri

Selain itu, Chriswanto San­toso memberitahu jika tema rapimnas kali ini yang meng­hasilkan program kerja delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa. “Bidang itu adalah Ke­bangsaan, Pendidikan umum, Pendidikan agama, Teknologi dan kecerdasan buatan, Kese­hatan Herbal, Ekonomi Sya­riah, Pertanian dan lingkungan hidup, dan energi terbarukan,” ujarnya.

Dalam pendidikan agama, dakwah LDII tak hanya kepada masyarakat umumnya, namun juga menyentuh masyarakat marjinal seperti dakwah di penjara Nusakambangan dan Enrekang, serta masyarakat lain di daerah perbatasan, masyarakat pen­yandang kusta, dan pengajian tuna rungu. via