loader image

Dispensasi Nikah: Mencegah Nikah Dini Atau Melegallisasi Seks Bebas?

oleh : 
Ernawati
(HST)

Angka pernikahan dini di Indonesia melonjak selama pandemi. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penyumbang angka perkawinan bawah umur tertinggi di Indonesia berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020. Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susilowati Suparto meng­a­ta­kan, peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi. (Kompas.com,Rabu, 8 Juli 2020).

Praktik pernikahan dini didapati tetap marak meski pemerintah sudah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia menjadi 19 tahun melalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2019. Selain itu, ada aturan yang menetapkan penyimpangan batas usia minimal dalam pernikahan hanya bisa dimohonkan dispensasi ke pengadilan. Memang benar ada aturan dispensasi dalam pernikahan dini.

UU Perkawinan baru ini memuat aturan dispensasi per­ka­wi­n­an, yang agak berbeda rumusannya dari UU No. 1 Tahun 1974. Dispensasi adalah pem­berian hak kepada seseorang untuk menikah meskipun usianya belum mencapai batas minimal 19 tahun.  Prinsipnya, seorang laki-laki dan seorang perempuan diizinkan menikah jika mereka sudah berusia 19 tahun ke atas.

Jika ternyata keadaan menghendaki, perkawinan dapat dilangsungkan meskipun salah satu dari pasangan atau keduanya belum mencapai usia dimak­sud.  Artinya, para pihak dapat mengesampingkan syarat minimal usia perkawinan melalui pengajuan per­mo­hon­an dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai. Dispensasi perkawinan dapat diberikan atas alasan mendesak.

Apa yang dimaksud ‘alasan mendesak’? UU Perkawinan menjelaskan bahwa alasan mendesak adalah keadaan tidak ada pilihan lain dan sangat terpaksa harus dilangsungkan perkawinan.  Alasan mendesak itu tak bisa sekadar klaim. Harus ada bukti-bukti pendukung yang cukup.

Liberalisme Biang Kerok Pergaulan Bebas

Dari fakta tersebut di atas, ada beberapa hal yang bisa kita cermati berkaitan dengan dispensasi perkawinan dalam rangka pencegahan pernikahan dini :

1) Dijalankan bersamaan dengan pendewasaan usia perkawinan dengan harapan menurunkan angka pernikahan dini. Padahal usia baligh (sekitar 16 tahun sampai 19 tahun) secara fisik maupun mental sudah siap dan bisa mengarungi rumah tangga. Ketika seseorang dilarang atau disuruh menunda perkawinan, sedangkan mereka mampu maka tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan hal diluar ketentuan, seperti  pergaulan bebas atau bahkan berzina.

Apalagi di negeri kita, berhubungan diluar nikah, asal suka sama suka maka tidak dikenakan sanksi hukum dengan sistem sekuler. Sehingga pembatasan usia tanpa ada sistem lain yang mendukung , akan tidak efektif, malah menambah masalah baru, seperti tingkat aborsi yang menin­g­kat, pergaulan bebas yang menjamur dan itu akan merusak generasi yang seha­rus­nya menjadi harapan masa depan.

2) Menjadi ‘jalan keluar’ untuk me­mak­lu­mi fenomena seks bebas di kalangan remaja.  Padahal kita ketahui bersama, di saat maraknya pergaulan bebas dan meningkatnya perzinahan bahkan online , membuat para remaja semakin terjerumus dan tidak tahu arah. Karena usia di masa mereka adalah usia yang sedang mencari jati diri , maka aturan kapitalis yang kita pakai sekarang sangat berkontribusi memberi  arah yang serba bebas dan kemungkinan besar menjerumuskan ke pergaulan bebas.

Jika seorang remaja sekarang (yang masih minim terhadap aturan pergaulan yang benar), yang berusia dibawah 19 tahun siap menikah, namun dicegah dan diberi dispensasi dengan alasan darurat dan mekanisme panjang, maka tidak menutup ke­mu­ng­kinan mereka tidak jadi menikah, namun akan mencari solusi lain ke pergaulan bebas.

Menjadi remaja gaul seolah-olah adalah sebuah hal yang wajib bagi kebanyakan generasi muda saat ini.  Apapun akan mereka lakukan demi terlihat gaul.  Mulai dari fashion, cara ber­da­n­dan,model rambut, genre musik semuanya harus serba kekinian. Standar gaul mereka salah satunya adalah trend berpacaran.

Budaya pacaran sudah menjadi hal yang umum di tengah-tengah masyarakat. Justru akan menjadi aneh jika ada remaja yang tidak mau pacaran.  Akibat dari adanya budaya pacaran inilah banyak remaja yang akhirnya terjerumus dalam pergaulan bebas,  tidak sedikit dari mereka yang melakukan seks bebas.

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius.

Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000.

Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai  29,9 persen. (http://rienodjokam.blogspot.co.id/)

Tidak hanya sampai disitu, dampak lainnya adalah semakin tingginya angka perceraian disebabkan pernikahan para remaja yang terpaksa menikah hanya untuk menutup aib karena hamil diluar nikah, terjangkitnya penyakit HIV/AIDS akibat sex bebas, meningkatnya angka kriminalitas seperti mencuri, merampok, memperkosa, atau membunuh semakin tinggi akibat banyak mengkonsumsi obat terlarang dan minuman keras.  Dan masih banyak dampak buruk lainnya.

Merebaknya pergaulan bebas dikalangan remaja tak lain karena dite­rapkan­nya sistem demokrasi di negeri ini. Prinsip utama dari sistem demokrasi adalah liberalisme atau kebebasan. Dan salah satunya adalah kebebasan berek­spresi. Jadi dalam sistem ini setiap individu bebas berbuat semaunya (termasuk berzina) asalkan tidak me­ru­gi­kan orang lain. Itulah mengapa ketika banyak pemuda melakukan pergaulan dan sex bebas negara tidak mau ikut campur.

Banyaknya perzinahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat asalkan dilakukan suka sama suka maka pela­kunya tidak bisa dijerat dengan hukum yang berlaku.  Itulah ironi yang sudah lazim terjadi di negeri yang menganut sistem demokrasi liberal.

Kemanfaatanlah yang menjadi tolok ukur setiap perbuatan manusia. Sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan adalah pondasi utama dalam sistem ini yang meniadakan peran/aturan agama untuk ikut campur dalam menyelesaikan setiap perma­sa­lahan yang muncul.

Islam Solusi Tuntas

Islam agama paripurna, mempunyai seperangkat aturan yang akan menye­la­mat­kan remaja dari pergaulan bebas. Adapun aturan tata pergaulan dalam Islam bisa dirinci sebagai berikut:

1. Larangan mendekati zina. Dalam Islam pergaulan antar pria dan wanita diatur sedemikian rupa. Perbuatan yang bisa menghantarkan pada perbuatan zina (pacaran) saja sangat dilarang apalagi perilaku seks bebas. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isro’ Ayat :32 “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesung­guhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

Pelaku zina akan diberikan hukuman yang sangat berat. Bagi pelaku yang belum menikah maka akan dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan sedangkan bagi pelaku yang sudah pernah menikah maka akan dihukum rajam yakni dilempari batu sampai meninggal. Dengan tujuan dari hukuman ini adalah sebagai penebus dosa bagi pelaku (jawabir), selain itu juga sebagai pen­cegahan agar tidak ada lagi yang berbuat seperti itu (jawazir).

2. Kewajiban menutup aurat.  Setiap wanita yang sudah baligh (dewasa) diwajibkan untuk menutup aurat ketika keluar rumah dengan memakai kerudung dan jilbab. Allah berfirman:  “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu,anak perempuanmu,dan istri-istri orang muk­min,hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”.

3. Menundukkan pandangan. Ketika berada di luar rumah pria dan wanita juga wajib menundukkan pandangan mereka, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 30 Allah berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menundukkan pan­da­ng­an­­nya dan memelihara ke­m­a­lu­an­nya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

4. Tidak berkhalwat.  Islam sangat menjaga sekali interaksi antara pria dan wanita. Pria dan wanita yang bukan mahrom dilarang untuk berkhalwat(berdua-duaan). Rasulullah bersabda:  “Janganlah sekali-kali pria dan wanita berkhalwat kecuali wanita itu ditemani mahromnya”. (HR. Bukhari).