loader image

Pengusaha Nilai Kartu Prakerja Tak Efektif

JAKARTA – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Ha­riyadi Sukamdani menyebut bahwa program Kartu Prakerja tidak efek­tif di masa pandemi ini. Insentif kompetensi dan semi jaringan pe­ngaman sosial ini dinilai tidak dapat menjangkau sepenuhnya pe­kerja yang terdampak Covid-19.

Dia menilai, sistem pendaftaran program ini tidak tepat dengan kon­disi saat ini. Sebab saat ini yang dibutuhkan masyarakat ter­dam­pak pandemi yaitu jaring pengaman sosial dan bukan pelatihan.

 “Sistem pendaftaran tidak tepat dengan kondisi saat ini yang di­bu­tuhkan jaring pengaman sosial sepenuhnya,” kata Hariyadi dalam Ra­pat Dengan Pendapat (RDP) bersama Komisi X, DPR-RI secara virtual, Jakarta, Selasa (14/7).

Selain itu, dia juga menyebut bahwa ada beberapa stimulus ya­ng diberikan pemerintah kurang efektif di dunia usaha. Di antaranya sti­mulus PPh 21, PPh 22 dan Ph 25.

Stimulus fiskal PPh 21 kata Hariyadi pada kenyataannya saat ini mayoritas pekerja menerima kurang dari gaji normal. Sehingga de­ngan batasan stimulus Rp200 juta per tahun atau Rp16,67 juta per bulan dirasakan tidak ada manfaatnya.

Lalu pada stimulus fiskal PPh 22, pembebasan pembayaran pa­jak impor dimuka dengan kondisi pasar domestik yang drop men­yebabkan impor menurun. Sehingga manfaat stimulus fiskal ini re­latif kecil manfaatnya.

Selanjutnya, Hariyadi mengatakan angsuran PPh 25 dikenakan dis­kon 30 persen dan membayar 70 persen. Namun dalam kondisi sa­at ini mayoritas perusahaan mengalami kerugian pada tahun 2020.

 “Maka bila perusahaan bayar angsuran 70 persen, malah akan le­bih bayar dan restitusi pajak akan memakan waktu yang lama,” ka­ta Hariyadi. mdk/mb06