loader image

MUI, NU, Muhammadiyah Satu Suara, Ied di Rumah

SELAMAT LEBARAN – Lebaran tahun 1441 H atau Tahun 2020 ini sangat berbeda dibanding Lebaran se­be­lum­nya, akibatnya pandemi Covid-19. Pemerintah meminta mas­ya­rakat untuk melaksanakan shalat Ied di rumah saja, tanpa harus berkumpul di sebuah lapangan maupun masjid. Begitu juga silaturrahmi agar dilakukan sebisa mungkin tanpa harus bertatap muka langsung. web

MENTERI Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menegaskan, tak ada perbedaan pandangan antara pemerintah de­ngan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan dua ormas Islam besar lainnya terkait pen­ye­le­ng­ga­ra­an shalat id di rumah.

MUI dan dua ormas Islam ter­sebut sama-sama berpendapat bah­wa ada ancaman bahaya yang akan ditimbulkan jika melakukan ke­ru­munan massa saat pandemi co­rona terjadi. “Kita dengan Ma­je­lis Ulama dengan NU dengan Mu­hammadiyah itu tidak ada per­bedaan pandangan,” kata Mah­fud saat konferensi pers usai ra­pat terbatas, Selasa.

Menurut Mahfud melakukan ke­giatan dengan mengumpulkan mas­sa dinilai justru akan me­nim­bulkan kerugian. Karea itu, se­ru­an ormas-ormas Islam itu tetap sa­ma agar shalat di rumah. 

“Sama-sama di dalam seruan ya­ng dikeluarkan Majelis Ulama, NU dan Muhammadiyah itu isi­nya sama agar orang shalat di ru­mah karena bahaya yang di­tim­bulkan oleh kumpul-kumpul itu lebih menim­bulkan mudharat da­ripada kita meraih yang sunnah muak­kad sekalipun,” jelas Mahfud.

Tak hanya itu, menurut dia, ke­tiga ormas Islam tersebut juga te­lah mengatur panduan shalat di ru­mah. Sehingga diharapkan mas­ya­rakat dapat menaati aturan dan menyelenggarakan ibadah ber­sa­ma keluarga di rumah ma­si­ng-masing.

“Misalnya jumlah jamaahnya berapa orang, shalatnya khut­bah­nya pendek bahkan ada yang me­ng­atakan kalau perlu tidak perlu khu­tbah yang penting shalatnya saja gitu itu sudah ada. Itu yang po­kok,” tambah dia.

Secara terpisah, Ustadz Ab­dul Somad (UAS) menyampaikan se­mua ibadah ada alternatifnya, ter­masuk ritual Idul Fitri saat pan­de­mi virus corona atau Covid-19. Hal ini menunjukkan ke­la­pa­ng­an dan kesempurnaan ajaran Islam.

Ustadz Somad mengatakan, me­ra­sa dilema karena di satu sisi me­ngajak masyarakat mengurangi in­tensitas pertemuan dan interaksi so­sial dalam ibadah. Sementara di sisi lain, melihat orang-orang ti­dak mau tahu dengan kondisi dan situasi. Mereka terus saja be­rin­teraksi tanpa peduli dengan ya­ng lain dalam bentuk dibukanya mal, bandara, konser, dan lain-lain.

Tapi karena niat me­n­ye­la­mat­kan masyarakat dari wabah Co­vid-19, Ustadz Somad men­je­las­kan, semua ibadah selalu ada al­ter­natifnya. Contohnya mandi dan wudhu alternatifnya ta­ya­mum.  “Ibadah puasa alternatifnya ba­yar fidyah atau qadha, (ini se­mua) menunjukkan kelapangan aja­r­an Islam,” kata Ustadz So­mad.

Ia menyampaikan, beberapa ri­tual terkait Idul Fitri bisa ter­wa­kili oleh alternatif-alternatif ter­sebut. Misalnya bayar zakat fit­rah bisa diwakilkan atau transfer. Tak­bir keliling bisa dilakukan masing-masing orang di rumah karena substansinya me­ng­ag­ung­kan Allah SWT.

Ia menjelaskan, sholat Idul Fit­ri juga bisa dilakukan sendiri di rumah atau dilaksanakan ber­ja­maah di rumah jika ada empat or­ang lebih. “Kunjung-kun­ju­ng­an (silaturahim) bisa diwakili dengan alat telekomunikasi, sedangkan akad nikah saja bisa dengan alat komunikasi terlepas dari ikh­ti­laf­nya,” ujarnya. rep/mb06