loader image

Menunaikan Zakat (3)

Oleh :
DR.H.Mukhyar Sani, MA

SELAGI ekonomi masih murat marit se­se­orang dekat kepada Tuhan, begitu ke­adaan berubah; membaik, ia menjauh Tuhan.

Al-Taubah 75 sampai 78 me­ng­ung­kapkan “ Dan di antara mereka ada ora­ng yang telah berikrar kepada Allah; Se­su­ngguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada ka­mi, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk ora­ng-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan se­ba­gian karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling dan mereka memanglah orang yang selalu membelakangi k­e­be­nar­an. Maka Allah menimbulkan kemunafikan dalam hari mereka, ka­rena telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ik­rarkan kepadaNya dan juga mereka selalu berdusta. Tidakkah me­reka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan me­reka, dan bahwasanya Allah mengetahui segala yang ghaib.”

Untuk sabat yang enggan membayar zakat nabi berkata “Ke­a­daan ini dilatar belakangi ulahmu sendiri, aku memerintahkanmu, te­tapi kamu tidak mau mengindahkannya.” Membayar zakatadalah wa­jud rasa syukur seseorang atas karunia Allah yang merupakan sua­tu kewajiban. Iberahim 7 mengingatkan “Dan (ingatlah ju­ga) tatkala Tuhanmu memaklumkan `Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sa­ngat pedih.” 

Dalam kaitan dengan masalah di atas, kita diingatkan sebagai be­ri­kut : Pertama, hadits nabi Muhammad  “Tidak ada seorangpun ya­ng memiliki emas dan perak yang ia tidak mengeluarkan za­kat­nya, kecuali dihari kiyamat nanti harta itu dijadikan kepingan-ke­pingan api neraka. Setiap kali dingin kepingan itu, dipanaskan kem­bali sampai suatu hari setelah lamanya 50.000. (lima puluh ribu) tahun sehingga Allah menyelesaikan urusan hambaNya.

Kedua, al-Taubah 35 menjelaskan  “Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, lalu kepada mereka di­katakan `Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sen­diri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan”.

Di akkhir Ramadhan setiap umat Islam diajibkan mengeluarkan zakat fitrah, 3,1 liter, waktu wajibnya adalah sejak terbenam matahari pada hari raya fitrah, dan dibolehkan mengeluarkannya sejak awal Ramadhan, mengeluarkannya sesudah shalat Ied hukumnya makruh, apabila sesudah terbenam matahari hari raya, hukumnya haram.

Berfitrah dengan uang seharga makanan menurut Imam al-Syafi’ie tidak sah, karena yang diwajibkan dalam hadits adalah maknanan yang mengenyangkan. Namun Imam Hanafi membolehkannya dengan alasan zakat fitrah itu haknya orang-orang yang berhak menerimanya untuk menutupi hajat mereka; bisa dengan makanan, bisa dengan uang.Menurut hadits nabi, zakat fitrah pembersih bagi orang yang berpuasa, dan memberi makan bagi orang-orang miskin. Semoga tidak ada muzakki yang enggan mengeluarkan zakat hartanya. (*)