loader image

Ramadhan, Permintaan Beras Naik

PERMINTAAN MENINGKAT – Selama Ramdhan, permintaan beras meningkat dibanding bulan biasanya. Kenaikan permintaan sekarang ini sudah mencapai 3 persen lebih. Salah satu pemicunya, karena berbarengan terjadinya pandemi Convid-19, sehingga banyaknya permintaan, selain dari kalangan keluarga rumah tangga, juga kelompok masyarakat, kementerian/lembaga, dan juga organisasi massa untuk bantuan sosial. mb/web

JAKARTA – Permintaan beras selalu tinggi se­belum dan memasuki bulan Ramadan. “Tapi kali ini, kebutuhannya semakin bertambah untuk bantuan sosial dalam menghadapi masa pan­demi virus corona (Covid-19),” kata Direktur Ope­rasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh.

“Hasil pantauan kami rata-rata kenaikan itu sekitar 3 persen. Tapi karena saat ini berbarengan dengan Covid, jadi banyak permintaan dari masyarakat, kelompok masyarakat, ke­men­terian/lembaga, dan juga or­ganisasi massa. Permintaan cukup tinggi, untuk bantuan sosial,” tuturnya dalam sesi live streaming di YouTube.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementrian Pertanian Agung Hendriadi juga mewajari tingginya permintaan akan beras, yang membuat harga jualnya juga naik.

“Bukan hanya karena corona, jelang Ramadan harga (beras) pasti naik. Apalagi ada jelang Ramadan, yang rush buying itu ada. Apalagi ditambah dengan sekarang ini Covid-19. Saya anggap ini kenaikan yang normal,” ujarnya.

Menurut dia, hal serupa tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara lain yang terkena dampak wabah virus corona. Menindaki kasus ini, ketersediaan beras jadi kunci agar penyaluran komoditas tersebut tetap terjaga selama masa pandemi dan bulan Ramadan.

“Dalam hal ini tidak hanya produksi saja yang harus kita lihat, tapi bagaimana juga ketersediaan. Karena ketersediaan faktornya dua, produksi dan distribusi,” tukas Agung.

Lebih lanjut dipaparkan, Perum Bulog menyatakan siap untuk menambah daya tampung beras di gudangnya sebesar 600.000 ton hingga Mei 2020. Menurut Tri Wahyudi Saleh, pihaknya target menyerap sekitar 300 ribu ton beras selama musim panen pada April ini.

 “Kemudian nanti kita di bulan Mei kami harus menyerap lagi sekitar 300.000, sehingga antara April-Mei diserap 600 ribu ton. Ini untuk mengi­mb­a­ngi yang masuk dan yang keluar,” ujar Tri.

Untuk menjaga stabilitas harga, Perum Bulog juga terus menjaga agar jumlah beras yang keluar/masuk gudangnya sama, yakni sekitar 5.000 ton per hari. mdk/mb06