loader image

Ancaman Penurunan Daya Beli di Balik Cukai ‘Teh Botol’ Dkk

JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana mengenakan cukai untuk muman berpemanis. Produk itu dianggap membahayakan kesehatan karena menimbulkan penyakit diabetes hingga obesitas.

Minuman berpemanis yang akan menjadi obyek cukai, antara lain teh kemasan, minuman karbonasi, dan minuman kemasan. Rinciannya, teh kemasan diusulkan terkena tarif cukai Rp1.500 per liter.

Lalu, minuman berkarbonasi dan minuman kemasan lainnya seperti minuman energi hingga kopi masing-masing sebesar Rp2.500 per liter.

Jika rencana ini diloloskan oleh DPR, harga minuman berpemanis yang dijual di pasaran otomatis akan meningkat. Pasalnya, pengusaha akan mengerek harga jual apabila produknya dikenakan tarif cukai oleh pemerintah.

Ekonom UI Telisa Falianty mengatakan kinerja industri makanan dan minuman (mamin) jelas akan terpengaruh dengan rencana pengenaan cukai terhadap produk minuman berpemanis. Jika ada kenaikan harga, otomatis penjualan berpotensi menurun.

“Ya pasti ada pengaruh dari penerapan cukai. Pengusaha pasti memberikan beban ke konsumen. Itu akan berdampak pada penjualan,” ungkap Telisa.

Menurunnya penjualan akan berdampak pula pada setoran pajak pengusaha ke negara. Sebab, jumlah pembayaran pajak biasanya ikut merosot seiring lesunya penghasilan perusahaan.

“Tapi pemerintah pasti sudah menghitung potensi kehilangan pajaknya untuk kebijakan cukai ini,” terang Telisa.

Selain itu, kenaikan harga minuman berpemanis sebagai akibat pengenaan cukai juga akan berpengaruh pada tingkat inflasi nasional.

Telisa mengingatkan minuman berpemanis merupakan salah satu produk yang kerap dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Ujung-ujungnya daya beli masyarakat yang menopang konsumsi domestic menurun.

Baca juga :  Apotek BUMN Perketat Penjualan

“Tapi untungnya minuman berpemanis tidak termasuk bahan makanan pokok, jadi pengaruh ke inflasi tidak terlalu tinggi,” kata Telisa.

Berdasarkan data BPS, makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,62 persen dengan andil 0,41 persen dari total inflasi 0,39 persen pada Januari 2020.

Untuk menekan sejumlah dampak tersebut, Telisa menyarankan pemerintah mengenakan cukai minuman berpemanis secara bertahap. Misalnya, besaran tarif cukai ditentukan di bawah Rp1.000 per liter terlebih dahulu.

“Dicoba dulu Rp1.000 per liter, jangan langsung di atas Rp1.000 per liter. Jadi nanti kenaikan harga produk juga tidak langsung signifikan. Harus bertahap,” ujar Telisa.

Setelah itu, pemerintah bisa melakukan evaluasi terhadap tarif cukai yang diberikan secara berkala. Jka berjalan efektif dan dampaknya di masyarakat tak besar, bisa saja pemerintah menaikkan tarif cukai untuk periode selanjutnya.

“Jadi pas awal-awal pasar wait and see juga lalu nanti ada evaluasi. Kalau awal-awal sudah di atas Rp1.000 per liter lumayan juga,” jelas Telisa. cnn/mb06