loader image

Gula dalam Susu Kental Manis Tidak Harus Ditakuti

Gula dalam susu kental manis bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, sehingga aman dikonsumsi, kata Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Achmad Syafiq.

“Susu kental manis adalah produk yang mengandung susu. Ada juga krimer kental manis atau KKM yang juga mengandung susu walaupun tidak sebanyak susu kental manis. Jika kemudian diarahkan bahwa susu kental manis (SKM) menyebabkan gizi buruk, hal ini bertolak belakang dengan pengertian faktor risiko dan penyebab secara statistik karena lebih banyak yang tidak konsumsi SKM,” kata Syafif dalam rilis hasil penelitian yang diterima di Jakarta, Rabu.

Syafiq juga mengatakan, gula dalam susu kental manis dibutuhkan untuk mencegah kerusakan produk, mengingat susu kental manis tidak boleh menggunakan bahan pengawet sehingga produk harus dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis).

Dalam proses pembuatannya, air dari susu diuapkan ditambahkan gula yang juga berfungsi sebagai pengawet. Sehingga gula memang dibutuhkan dalam produk susu kental manis.

Syafiq menambahkan bahwa semua jenis makanan saling melengkapi. Tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Jadi konsumsi produk pangan memang tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan peruntukannya.

Dalam kondisi masalah gizi ganda di Indonesia, dimana sebagian anak mengalami kelebihan gizi tetapi sebagian lainnya kekurangan gizi maka pemberian informasi harus tepat, akurat dan jelas targetnya.

“Dalam kasus ini, tidak dapat disimpulkan bahwa SKM/KKM adalah satu-satunya faktor yang berhubungan dengan gizi kurang atau gizi buruk, tetapi sangat mungkin ada faktor-faktor lainnya,” katanya.

Studi yang dilakukan oleh PP (Pimpinan Pusat) Aisyiyah dan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) menyatakan bahwa susu kental manis mengakibatkan gizi buruk pada anak di beberapa daerah seperti Provinsi Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara.

Penelitian ini menyebutkan bahwa dari 1.835 anak usia 0-5 tahun yang terdata, 12 persen mengalami gizi buruk, dan 23,7 persen gizi kurang. Hasil tersebut didapat dengan rincian 14,5 persen anak dengan status gizi buruk mengonsumsi SKM/KKM lebih dari 1 kali dalam sehari.

Sedangkan 29,1 persen anak dengan status gizi kurang mengonsumsi SKM/KKM lebih dari 1 kali dalam sehari. Menariknya, jika data ini benar berarti ada sejumlah 79.0% anak gizi buruk yang tidak konsumsi SKM.ant/ron