loader image

Pakan Naik, Peternak Pertimbangkan Apkir Dini

JAKARTA  –  Harga jagung pakan ternak mengalami kenaikan pada awal tahun ini. Kenaikan harga jagung akan berimplikasi langsung pada tingginya harga daging dan telur ayam ras di tingkat konsumen. Opsi apkir dini atau pemotongan ayam ras petelur produktif akan dipilih jika ketersediaan pakan tidak mencukupi populasi.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar Mesdi, menuturkan, jagung pakan yang diterima peternak saat ini dihargai hingga Rp 5.200 per kilogram (kg). Harga tersebut jauh lebih tinggi dari harga normal jagung pakan sebesar maksimal Rp 4.500 per kilogram.

Menurutnya, kenaikan harga mulai dirasakan peternak sejak pekan ketiga Desember 2019 dan terus berlanjut hingga saat ini. “Kita tahu panen jagung baru akan ada di bulan Maret. Tapi untuk sampai ke peternak paling cepat bulan April karena ada proses pengeringan dan distribusi jagung,” kata Musbar.

Musbar menegaskan, jagung berkontribusi sekitar 65 persen terhadap biaya produksi daging dan telur ayam ras. Karena itu, sedikit kenaikan harga jagung pakan bakal berimplikasi langsung kepada kenaikan harga dua komoditas itu di pasar tradisional.

Di satu lain, pemerintah tengah menjaga ketat harga komoditas bahan pokok, termasuk daging ayam dan telur ayam ras agar tak mendongkrak laju inflasi pangan.

Ia menilai ada ketidakonsitenan pemerintah terhadap kebijakan di bidang pangan. Sebab di satu sisi pemerintah ingin harga di hilir terjaga namun tak memastikan ketersediaan bahan baku pakan di hulu.

“Pemerintah kan tidak mau harga ayam dan telur ayam naik. Ya kalau begitu harus menjamin kontinuitas jagung. Jangan ketika inflasi naik, lalu disebut akibat harga ayam dan telur naik. Itu tidak bijak,” ujarnya. Peternak, tegas Musbar, ingin agar pemerintah segera mengambil langkah strategis terkait permasalahan kenaikan harga jagung pakan. rep/mb06