loader image

Harga Cabai dan Bawang Jadi Meroket

JAKARTA – Ketua Ikatan Pedagang Pasar In­donesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri memprediksi harga cabai dan bawang akan naik dalam beberapa waktu ke depan.

Sebab, cabai dan bawang beresiko tidak bisa dijual lagi jika sudah terendam banjir dan stok akan berkurang.

“Dua komoditas yang rawan terdampak kenaikan harga yaitu aneka jenis cabai dan bawang,” kata Abdullah kepada mer­deka.com di Jakarta, Sabtu, (4/1).

Kalau pun tidak terendam banjir, cabai dan bawang rawan busuk bila tak terjual. Akhirnya pedagang pun mengalami kerugian.

Tak hanya itu, banjir dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah juga menyebabkan stok persediaan cabai dan bawang berkurang.

Abdullah mengaku saat ini pihaknya sedang melakukan pendalaman terhadap pergerakan harga cabai dan bawang. “Asumsi kami itu yang harganya naik,” ujarnya.

Sebelumnya, memasuki musim penghujan, harga cabai rawit merah di Pasar Minggu mengalami lonjakan harga, dengan kisaran harga mencapai Rp65.000 per Kilogram (Kg). Kenaikan harga juga diakibatkan oleh cabai yang cepat membusuk.

Salah satu pedagang sayuran di Pasar Minggu, Suwarti mengatak, dampak dari kenaikan harga cabai merah karena lonjakan harga di Pasar Induk Kramat Jati. Selain itu, hujan lebat juga membuat cabai cepat busuk.

“Kalau busuk, orang (se­ringnya) tidak jadi beli. Sehingga dibuang,” ujar Suwarti. Selain itu, cabai merah juga mengalami kenaikan harga, berkisar Rp55.000 per Kg. Sedangkan, rawit hijau juga mengalami lonjakan, dengan kisaran Rp45.000 per Kg. ant/mb06