Nola Zain Salman, Warga Singapura Yang Soroti Wanita Banjar

Nola Zain Salman.ist

Ketika ingat Kongres Budaya Banjar (KBB) V 28 November hingga 1 Desember 2019 di Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, tentu ingat seorang wanita cantik yang menjadi pembicara di perhelaan besar suku Banjar tersebut.

Siapa dia, tak lain dan tak bukan dialah Nola Zain Salman yang bernama asli Nola Febriani binti Salman, wanita suku Banjar yang sekarang tinggal di Kota Metropolitan Singapura.

Wanita generasi keempat yang tinggal di Singapura ini, ibu asal Alabio dan ayah asal kandangan, bersuami orang Melayu dan mengaku sangat bahagia bisa kembali ke tanah leluhurnya Banjarmasin, sebelumya juga hadir saat KBB IV.

Wanita berkulit mulus yang berprofesi sebagai pengajar di Universitas Muhammadiyah Singapura ini, banyak mencermati keberadaan wanita Banjar, karenanya diminta membahas wanita banjar dulu dan sekarang.

Menurut wanita berjilbab yang pernah belajar kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor wanita Banjar itu dulu kerjaannya hanya tinggal di rumah saja, dan mengenal macam2 rempah, membersihkan rumah, menyediakan makan minum suami dan anak, menurut sama orang tua dan suami, berakhlak dan menjaga adab.

Ada juga wanita Banjar dulu ikut mengambil upah panen padi, membuat atap rumbia, serta membuat kue, badandan bapupur baras, belajar mengaji, dan kebanyakan tak sekolah dan hanya memperoleh ilmu turun temurun.

Tetapi kini, tambah wanita yang pernah pula belajar di NCC (UK)- Internasional Diploma In Computer Studies ini wanita Banjar dalam keluarga saja peralatan serba canggih, alat elektronik  dapur juga saraba canggih, tak lagi berserah diri pada takdir dan mampu menjaga rumah sambil bacari duit, memiliki peran yang sama mampu bekerja apa saja wan mampu sekolah, punya posisi tawar menawar dan mampu bersolek.

Wanita Banjar sudah hebat-hebat, punya keterampilan, pandai berorganisasi, mampu bersosialisasi ke masyarakat, jadi konsultan, dan terjun ke dunia usaha dan pilitik.

Di Singapura, perempuan Banjar sudah mampu mandiri dan manguasai bahasa, Inggiris, Malayu, Arab dan Banjar untuk sabahagiannya.

Di Malaysia, wanita Banjar ada nang jadi pengacara (Lawyer) dokter dan mampu duduk sebagai  perlemen. Di Riau Indonesia, banyak perempuan Banjar kabanyakan sebagai tanaga pendidik.

Dalam dunia politik, di Kalsel  2019-2024 ada 55 orang perempuan mawakili masuk ke DPR, di Kalbar, di Riau ibu Septina RZ ketua DPRD setempat, dan di Malaysia Wakil Perdana Menteri Wan  Ajizah Wan Ismail.ant/ron