Industri Otomotif Ramai-ramai PHK Karyawan

JAKARTA – Industri otomotif mulai menempuh langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai bagian dari strategi pengembangan mobil listrik. Daimler, produsen mobil asal Jerman bermerek Mercedes-Benz, akan mem-PHK terhadap 10.000 karyawan mereka.

Daimler mengatakan perlu mengurangi biaya kepegawaian demi beralih mengembangkan industri mobil listrik. Transformasi otomotif ke mobil listrik akan memicu gelombang investasi baru dalam mobil listrik, namun sebelum itu terjadi industri otomotif harus meningkatkan daya saing dan inovasinya.

“Industri otomotif sedang mengalami transformasi terbesar dalam sejarahnya. Kami ingin meningkatkan daya saing, inovasi, dan kekuatan investasi,” imbuh Daimler.

Kepala Personel Daimler (DDAIF) Wilfriend Porth mengakui pengurangan pekerjaan paling sedikit berdampak kepada puluhan ribu orang. Untuk posisi manajemen, PHK setidaknya mengurangi jumlah karyawan hingga 10 persen.

Daimler menjelaskan saat ini perusahaan mempekerjakan sekitar 300 ribu karyawan. Di antaranya 60 persen karyawan bermarkas di Jerman. “Perubahan (PHK) akan menghemat hingga 1,4 miliar euro (US$1,5 miliar) pada akhir 2022 mendatang,” terang Porth.

Pelaku industri otomotif tradisional di seluruh dunia tengah beradaptasi dengan bisnis model mereka dari mesin yang mengandalkan bensin dan diesel menjadi mobil listrik.

Namun, peralihan tersebut berakibat pada pengurangan jumlah tenaga kerja, karena produksi mobil listrik membutuhkan lebihsedikit pekerja. Di sisi lain, biaya investasi yang dibutuhkan tidak sedikit.

Sebelumnya, Audi yang dimiliki oleh Volkswagen (VLKAF) menyebut akan melakukan PHK terhadap 9.500 karyawan hingga 2025 mendatang. Jumlah itu tercatat sebanyak 10 persen dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia.

PHK yang dilakukan Audi diperkirakan menghemat sekitar 6 miliar euro atau US$6,6 miliar selama 10 tahun. Kendati begitu, produsen mobil premium tersebut akan menciptakan 2.000 pekerjaan baru yang fokus pada mobil listrik. rep/mb06