Di Tengah Stigma Pahit, Jamu Mencari Jalan untuk Eksis

JAKARTA – Apa minuman yang kamu pesan ketika nongkrong di kafe? Thai tea, espresso, capucino, lemon tea, atau milkshake? Adakah yang memesan jamu? Tentu sedikit, karena jamu memang jarang ditemui di kafe-kafe modern.

Apalagi jamu kental dengan stigma obat dan rasa pahit, lain dengan minuman-minuman kekinian yang rasanya lebih bersahabat dengan lidah. Jamu juga identik dengan kekunoan yang hanya diminum orang-orang tua, alih-alih kekinian yang dekat dengan kaum milenial.

Stigma itulah yang menjadi kendala utama perkembangan jamu menurut Ronny artien, Pakar Teknologi Farmasi UGM. Karena itu, Ronny mengatakan perlu inovasi-inovasi untuk mendobrak stigma negatif tentang jamu. “Bagaimana kita membuat jamu naik level, (misal) jamu dibawa anak muda untuk nonton di XXI,” ujar Ronny di UGM.

Desain produk menjadi hal penting menurut Ronny agar jamu bisa merambah ke anak muda, bagaimana mengemas jamu agar lebih kekinian. Senada dengan Ronny, Ahli Herbal yang kini juga Dekan Fakultas Farmasi UGM, Agung Endro Nugroho juga mengatakan perlu adanya rebranding atas jamu, terutama rasa.

Agung mencontohkan tren kopi yang bekembang pesat belakangan ini. Varian rasa kopi yang awalnya hanya pahit, seiring perkembangan zaman semakin berkembang menjadi berbagai jenis dan rasa.

“Yang dulu masyarakat resisten terhadap kopi karena pahit, sekarang anak-anak muda minum kopi sebagai lifestyle,” ujarnya. “Ada dua track, track pertama herbal sebagai obat yang kedua herbal sebagai life style,” kata Agung.

Ketika herbal sudah menjadi obat, maka obat harus memenuhi uji pra klinis dan uji klinis, inilah yang dikenal dengan fitofarmaka. Namun ternyata obat herbal yang telah berstatus sebagai fitofarmaka ternyata tak menjamin dia bisa lebih laku di pasar.

Padahal, menurut Pakar Farmakologi, Zullies Ikawati, agar sebuah obat herbal bisa mendapat status fitofarmaka dibutuhkan biaya yang besar. Akibatnya, sampai sekarang baru sekitar 20 herbal yang sudah berstatus sebagai fitofarmaka.

“Jadi biasanya yang bisa seperti itu (berstatus fitofarmaka) hanya industri-industri besar,” ujar Zullies. Akibat besarnya biaya untuk melakukan uji praklinis dan klinis, membuat harga fitofarmaka juga melonjak. Inilah faktor utama menurut Agung menyebabkan kenapa fitofarmaka jadi tidak populer di tengah masyarakat.

Meski dalam dunia medis, fitofarmaka sudah teruji sebagai obat sehingga bisa menjadi resep dokter. Jika obat herbal belum berstatus fitofarmaka, maka dia akan sulit diterima oleh dokter.

“Namun kelemahannya adalah biayanya besar, prosesnya lama, sesudah itu kemudian sampai detik ini tidak banyak yang beredar,” ujar Agung. Menurut Ronny, besarnya disparitas harga antara fitofarmaka dengan obat-obatan kimia disebabkan oleh panjangnya proses yang harus dilalui fitofarmaka. kump/mb0