Perbankan Masih Ogah untuk Turunkan Bunga Kredit

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta perbankan untuk segera menurunkan suku bunga kredit. Hal ini menyesuaikan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang telah turun 100 basis poin hingga Oktober 2019. Adapun per Agustus 2019 rata-rata suku bunga perbankan mencapai 9 persen. Sementara suku bunga acuan BI sudah 5 persen per Oktober 219.

“Saya mengajak untuk memikirkan secara serius untuk menurunkan suku bunga kredit. Negara lain sudah turun, turun, turun, kita BI-rate sudah turun, bank-nya belum. Ini saya tunggu. Tepuk tangan berarti setuju. Oke, dicatat lagi,” ujar Jokowi saat membuka IBEX 2019 di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (6/11).

Menanggapi hal tersebut, para bankir senada bahwa suku bunga kredit tak bisa tiba-tiba turun. Ada sejumlah komponen lainnya harus turut diturunkan.

Direktur Keuangan PT BNI (Persero) Tbk Ario Bimo mengatakan, saat ini yang terpenting adalah penurunan biaya dana atau cost of fund. Adapun saat ini rata-rata suku bunga dasar kredit (SBDK) BNI per September 2019 sebesar 9,95 persen untuk kredit korporasi, 9,95 persen untuk kredit ritel, dan 10,5 persen untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Yang penting cost of fund-nya turun, baru berani turun. Kalau cost of fund belum turun ya enggak berani lah, nanti kalau kita semakin kecil dimarahi investor,” ujar Ario di Fairmont Hotel, Jakarta.

Usai BI menurunkan suku bunga, biasanya bank akan terlebih dulu menurunkan suku bunga deposito. Baru setelahnya diikuti penurunan suku bunga kredit.

Namun Ario menjelaskan, saat ini tak ada lagi waktu pasti tersebut. Sehingga perbankan pun tak bisa lagi memastikan, kapan penurunan suku bunga kredit usai penurunan BI 7 Day Repo Rate tersebut. Menurutnya, hal ini akan sangat bergantung pada likuiditas perbankan.

“Sekarang udah enggak bisa rule of time kayak gitu lagi. Dia benar-benar ngelihat dari marketnya sekarang. Balik lagi, kalau rule of time kayak gitu, kalau likuiditasnya ada,” katanya.

Presiden Direktr PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menjelaskan, pihaknya mengakui memang suku bunga Indonesia saat masih tinggi dibandingkan negara lain. Namun jika suku bunga BI turun, bukan berarti bunga kredit perbankan terus turun.

Per September 2019, bunga kredit korporasi BCA mencapai 9,75 persen, kredit ritel mencapai 9,9 persen, dan kredit KPR mencapai 9,9 persen.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso pun masih enggan menurunkan bunga kredit. Menurutnya, hal ini juga melihat kondisi pasar yang terus berfluktuasi.

Saat ini, suku bunga kredit korporasi BRI mencapai 9,95 persen, kredit ritel 9,9 persen, dan KPR 9,9 persen. “Suku bunga pasti memang harus ikuti pasar, jadi bank follow trade Kalau pasar turun, tidak ada alasan kita tidak turunkan,” jelasnya. rep/mb06