Impor Pacul Memalukan

JAKARTA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, mendukung pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengkritik adanya impor cangkul dan pacul. Ia menilai harusnya Indonesia sebagai negara agraris bisa menghasilkannya sendiri.

“Mestinya sih cangkul enggak usah impor. Terus terang saya setuju sama Bapak Presiden. Malu-maluin gitu. Itu kan suatu alat yang bukan teknologi tinggi juga yang kita sebetulnya bisa kita bangun,” ujar Rosan di sela Dialog Nasional Ekonomi Kreatif, Kamis.

Rosan berkata apapun alasannya, pihak Kadin memandang impor cangkul dan pacul adalah hal yang menyedihkan. Ia pun mendorong agar produksi peralatan itu bisa dilakukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ia menyebut penyerapan alat produksi itu pun pastinya ada karena tenaga kerja industri pertanian Indonesia sangat besar. Kehadiran pasar pun sudah terjamin dan pemerintah tinggal memacu produksi.

“Industri ini bisa dibangun, apalagi dikerjasamakan dengan UMKM. Yang penting adalah bagaimana kita menyatukan produser dan pemakai. Di sinilah peran pemerintah harus hadir juga,” jelas Rosan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat geram karena menemukan adanya batusan ribu impor pacul dan cangkul. Peluang lapangan kerja produksi barang tersebut pun menjadi hilang karena mengandalkan impor. “Jadi menurut saya memang ridiculous sih kalau misalnya pacul saja harus impor,” pungkas Rosan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) memprioritaskan industri dalam negeri daripada barang impor dalam proses produksi. Jokowi pun heran barang-barang yang mampu diproduksi oleh industri kecil dalam negeri, namun justru malah diimpor.

“Misalnya urusan pacul, cangkul, masak masih impor. Apakah tidak bisa didesain industri UKM kita, kamu buat pacul. Tahun depan saya beli. Ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor,” ucap Jokowi. lp6/mb06