Antara Air Baku, Kadar Garam, dan Embung Solusinya

KONDISI AIR – Direktur Utama PDAM Bandarmasih Ir. Yudha Achmadi memperlihatkan beberapa sampel kondisi air yang diperiksa oleh laboratorium pabrik air milik Pemkot Banjarmasin tersebut. rdi

Tak hanya ancaman kebakaran hutan dan lahan, juga musibah kebakaran rumah penduduk, musim kemarau tak jarang membuat warga “menjerit” akan ketersediaan air bersih yang dikucurkan dari pabrik PDAM. Ke depan, sudah saatnya embung menjadi solusi.

DI kelilingi oleh sungai besar dan kecil, bukan berarti penduduk Kota Banjarmasin selalu tersedia oleh air yang layak digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Demikian pula, tidak menjamin PDAM Bandarmasih memiliki sumber air baku yang berlimpah untuk bisa diolah menjadi air bersih, kemudian didistribusikan kepada masyarakat.

Boleh jadi, musim kemarau belakangan ini menjadi waktu yang sangat berarti bagi direksi dan karyawan PDAM Bandarmasih.

Mereka “dipaksa mengerutkan dahi” pertanda harus berpikir keras untuk menjaga kesinambungan suplai air bersih ke pelanggan. Betapa tidak, sumber air baku yang berada di muara laut, tak bisa membendung kadar garam sehingga terjadi intrusi, yang bila di atas ambang batas, tak bisa diolah menjadi air bersih.

Dan intrusi itu terjadi sampai saat ini di sumber-sumber air baku PDAM, meski juga terkadang turun hujan yang deras. Fenomena yang disebabkan oleh faktor alam ini pun berdampak pada pelayanan air bersih dari pabrik air milik Pemkot Banjarmasin.

“Ada penurunan pelayanan, tekanan distribusi air ke pelanggan berkurang. Ini karena air baku yang diolah mengalami penurunan dibanding biasanya. Tapi kami tetap berupaya semaksimal mungkin untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan dan masyarakat di Kota Banjarmasin,” ujar Direktur Utama PDAM Bandarmasin. Ir. Yudha Achmadi.

Semula, di awal-awal kemarau, kapasitas air baku masih normal. Seiring berjalan waktu dan cuaca semakin panas, sementara hujan belum juga turun, kadar garam di Sungai Bilu naik signifikan. Demikian sumber air baku lainnya di Sungai Lulut. Dari hasil laboratorium PDAM Bandarmasih, kadar garamnya mencapai 6.000 miligram per liter. Padahal, air baku yang bisa diolah menjadi air bersih, kadar garamnya maksimal 250 miligram per liter.

“Dan angka 6.000 itu masih bertahan sampai saat ini. Tapi kami melakukan langkah-langkah lainnya untuk tetap mendistribusikan air bersih ke pelanggan,” tutur Yudha.

Langkah yang dimaksud adalah memaksimalkan sumber air baku dari irigasi. Meski kapasitas pengolahan mengalami penurunan, tapi distribusi air bersih ke pelanggan tetap bisa berlangsung. “Dampak menurunnya pelayanan pasti dirasakan pelanggan, apalagi yang berada di kawasan ujung seperti Mantuil, Pulau Bromo, dan lain-lain. Tekanan distribusi mengecil,” kata Yudha.

Kondisi dan langkah yang dilakukan PDAM Bandarmasih untuk menjaga kesinambungan pelayanan itu perlu dikembangkan. Rencana pembangunan embung berkapasitas 1 juta meter kubik air yang sebelumnya digadang-gadang dibangun di kawasan Pematang Panjang, Gambut, Kabupaten Banjar, perlu dipertimbangkan kembali.

Menurut Yudha, keberadaan embung itu sebuah harapan. Soalnya, bila seluruh sumber air baku tak bisa diolah, maka air yang ditampung di embung itulah yang menjaga kesinambungan pelayanan.

Tentu saja, pembangunan embung bukanlah perkara mudah karena menyangkut biaya. Yudha menyebutkan, perlu biaya ratusan miliar. Untuk bisa merealisasikan pembangunan ini tak bisa mengandalkan dari tarif air yang dibayar oleh pelanggan setiap bulannya. Pemerintah daerah dan pusat perlu turun tangan.

Namun berkaca dari itu, bagi Yudha, embung adalah rencana jangka panjang. Di tengah permasalahan air baku yang berpotensi krisis di saat musim kemarau, berbagai langkah dilakukan oleh PDAM Bandarmasih agar pelayanan air bersih kepada pelanggan dan masyarakat tetap berjalan normal, meski ada penurunan.

Bagi penduduk Kota Banjarmasin yang tinggal di pinggiran, saat terjadi penurunan distribusi air melalui perpipaan, maka mobil-mobil tangki air berih milik PDAM Bandarmasih hilir-mudik melayani.

Selain itu, tandon-tandon yang diisi air bersih disebar di permukiman. Tak jarang pula, ungkap Yudha, pihaknya mengirim air bersih menggunakan kapal motor yang melintasi perairan menuju masyarakat pinggiran.rdi