loader image

Stop Kekerasan Perempuan

Ilustrasi. ©google

Oleh:
Sriyati, A.Md
(Pemerhati Perempuan dari Batola)

Pada tanggal 18 Agustus 2019 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan kegiatan Kampanye Stop anti Kekerasan berupa meneriakkan yel-yel yang berisikan ajakan Stop Kekerasan Dalam rangka mengantisisipasi maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak.  Kegiatan ini dilaksanakan di Car Free Day Depan Mesjid Sabilal Muhtadin, dalam rangka memperingati 2 hari yang sangat bersejarah yaitu Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan yang ke 69 serta moment HUT Republik Indonesia yang ke-74.  Kegiatan tersebut dipimpin langsung Kepala DPPPA Kalsel, Hj. Husnul Hatimah, SH.,MH, diikuti oleh berbagai instansi lain, seperti LKBH, HIMPSI, Forum Anak, Forkomwil danlain-lain.

Kampanye ini juga mendukung kegiatan strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel, tentang pencegahan dan penanganan korban kekerasaan terhadap perempuan dan anak. 

“Penghapusan kekerasan terhadap perempuan tidak bisa diatasi sendiri namun membutuhkan kerja sama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat, untuk bergerak secara serentak, baik aktivis LSM  perempuan, Pemerintah maupun masyarakat secara umum. Tujuannya antara lain mengajak semua orang untuk turut terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,” kata kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Per­lin­du­ngan Anak Provinsi Kalimantan  Selatan.

Perempuan dalam Sistem Kapitalis

Berbagai macam persoalan yang dialami perempuan saat antara lain kemiskinan, pelecehan, penindasan, dan eksploitasi menghimpit kaum perempuan dimanapun ia berada. Disadari atau tidak, hal ini terjadi karena sistem yang diterapkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia, sistem kapitalis yang menjerat banyak negara mempengaruhi cara pandang dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Saat ini perempuan dipandang dan diperlakukan sebagai komoditas dan mesin pencetak uang. Sistem kapitalisme mampu menciptakan gaya hidup materialistik dan hedonisme, sebagai contoh perempuan Indonesia yang notabene berkulit kuning langsat diserbu dengan propaganda bahwa cantik itu berkulit putih, maka perempuan Indonesia berlomba membeli produk-produk pemutih kulit. Contoh lain ketika tayangan televisi diberi ruang yang besar untuk menam­pil­kan acara-acara yang tidak memberikan nilai edukasi, yang hanya mengejar rating semata. Maka tak heran, tumbuh subur tayangan-tayangan yang banyak menam­pil­kan adengan tidak pantas, para perempuan yang mengumbar aurat, propaganda LGBT melalui para seniman yang justru dianggap wajar dan meng­hibur.

Kapitalisme pun menyebabkan manusia menjadi para pemuja fisik, kemolekan dan kecantikan perempuan dijadikan aset dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya, perempuan banyak dijadikan objek iklan, model, film, maupun pekerja seks yang dapat menyumbangkan pajak yang besar bagi negara. Dalam segi ekonomi, lapangan pekerjaan yang memberikan prioritas terhadap para perempuan sehingga menciptakan para perempuan karir yang lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang anak, istri dan juga ibu bagi keluarganya, di lain sisi begaian besar keluarga hidup dalam kemiskinan yang mengharuskan para perempuan bekerja meninggalkan anak dan suami bahkan sampai ke luar negeri, yang tidak jarang terjebak pada human trafficking.

Standar kebahagiaan juga diukur dengan banyaknya materi dan kedudukan tinggi, hal ini yang mendorong para perempuan semakin banyak meninggalkan perannya sebagai seorang istri dan anak untuk bekerja, baik secara terpaksa maupun suka rela. Padahal dampak yang timbul dari sibuknya orang tua terutama seorang ibu di luar rumah sangat besar, menyebabkan semakin marak kenakalan remaja akibat lemahnya pengawasan orang tua. Hal ini seolah wajar dimana peme­rin­tah terkesan memberi jalan kepada kaum perempuan dengan memberikan keluasan kepada perusahan-perusahan meng­ek­spoitasi pekerjanya, melegalkan prostitusi sebagai salah satu langkah mengatasi masalah perekonomian negara, dan masih banyak lagi.

Perempuan dalam Pandangan Islam

Islam menempatkan posisi kaum perempuan pada kedudukan yang mulia, hal ini tidak lain karena peran dan tugas besar yang dimilikinya. Di dalam Al-Qur’an telah banyak menjelaskan kepada kita tentang kedudukan perempuan dengan kaum pria. Islam memandang kedudukan perempuan sama dengan laki-laki dalam hak dan tanggung jawabnya. Keduanya memiliki potensi dan akal yang sama sehingga mampu menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan koridor yang telah diatur oleh Allah. Oleh sebab itu keduanya, baik laki-laki dan perempuan terikat atas aturan-aturan yang akan diminta pertanggungjawaban atas per­bu­atan­nya di dunia.

Islam juga menempatkan perempuan dalam posisi terhormat. Laki-laki dan perempuan akan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat secara alami namun berjalan sesuai koridor syara’. Setiap perempuan dibolehkan menuntut ilmu setinggi-tingginya, juga mendapat jaminan kesehatan serta layanan kemas­ya­ra­katan lainnya seperti halnya laki-laki. Islam memandang peran perempuan yang paling esensial adalah sebagai seorang istri dan seorang ibu, sehingga tidak diwa­jib­kan kepada wanita untuk bekerja diluar rumah, tetapi jika wanita mampu menja­lankan perannya sebagai seorang istri dan ibu dengan baik serta mampu bekerja membantu perekonomian keluarga maka pahala yang sangat besar telah disiapkan kepadanya.

Di bidang ekonomi Islam memberikan kesempatan kepada wanita selama peran sebagai istri dan ibu tidak diabaikan, maka tidak ada larangan bagi kaum perempuan untuk mengambil bekerja di luar rumah menjalankan profesi dan keahlian yang ia miliki. Setiap perempuan memperoleh hak yang sama dengan laki-laki dalam berkepemilikan selama tidak menyalahi syariat. Islam pun memberi hak waris pada perempuan, meski setengah dari porsi laki-laki tetap tak dapat disebut diskriminasi karena perempuan berhak atas mahar dan nafkah.

Dalam politik kaum perempuan berhak dipilih dan memilih untuk berperan serta dalam masalah-masalah umum kemas­yarakatan, termasuk dalam berpendapat. Sebagaimana pada masa Umar bin Khattab, beliau pernah beradu argumentasi dengan perempuan dalam sebuah masjid, saat itu Umar mengakui kesalahannya dan membenarkan pendapat perempuan tersebut.

Solusi Tuntas adalah Islam

Allah SWT menciptakan manusia baik laki-laki maupun perempuan dengan seperangkat aturan yang melekat padanya. Dengan aturan tersebut Allah menjelaskan tugas dan perannya dalam menjalani kehidupan, ada yang sama dan berbeda. Namun hal tidak dapat dipandang sebagai sebuah kesetaraan atau diskriminasi, selayaknya kita harus mampu melaksanakan peran kita sebagai seorang hamba sesuai dengan porsinya tanpa menuntut kesetaraan yang seharusnya tidak perlu untuk diper­masalahkan. Setiap aturan yang datang dari Allah tidak pantas diartikan sebagai sebuah tekanan, bahkan sesungguhnya ketika seluruh aturan tersebut diterapkan secara mengeluruh dengan penuh ketaqwaan dan keikhlasan akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bukan hanya bagi individu namun juga bagi seluruh mas­yarakat.

Oleh karena itu, seluruh persoalan yang menimpa kaum perempuan karena dominasi sistem Kapitalis Sekuler ini harus dipecah­kan dari akarnya. Negaralah yang punya andil terbesar dalam hal ini. Setiap muslim wajib dibekali dengan keimanan dan ketaqwaan, sehingga membentengi dirinya dari melakukan tindak kejahatan. Masya­ra­kat pun harus berperan aktif dan positif dalam melakukan kontrol sosial. Mas­yarakat secara bersama-sama menegakkan prinsip amar makruf nahi mungkar, yang akan meminimalisasi bahkan menghilangkan kejahatan ini, karena masyarakat merasa peduli dan berkepentingan untuk me­ng­hi­la­ng­kan kemungkaran yang terjadi, karena setiap kemungkaran yang tidak dicegah akan mengundang azab yang merata dan menjadikan doa mereka tidak diterima. Masyarakat adalah agen terpenting dalam misi pengawalan negara terhadap pelak­sa­naan hukum syariat di segala sendi kehidupan.

Peneraan sanksi hukum yang sesuai dengan syariat hanya dapat ditemukan pada Sistem Negara Islam, diterapkannya aturan yang sesuai dengan hukum-hukum Allah, sehingga mampu dapat berfungsi sebagai pencegah dan penebus, artinya mencegah manusia dari perbuatan dosa (pelanggaran), serta menebus sanksi akhirat yang akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan di dunia. Selain itu, semua hukum yang telah di terapkan mampu memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan. Maka benarlah bahwa segala persoalan yang ada saat ini adalah buah dari pemahaman-pemahaman yang tidak disandarkan kepada syariat Allah, hanya Islam yang mampu memuliakan manusia baik laki-laki maupun perempuan sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *