loader image

Tingkat Kemiskinan Kalsel 4,55 Persen

mb/ist
DATA BPS – Para wartawan dan undangan memperhatikan data BPS yang ditayangkan melalui televisi.

BANJARBARU – Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalsel, pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin di Kalsel sebesar 192,48 ribu orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 4,55 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalsel Diah Utami mengatakan, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat 70,52 ribu orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 3,53 persen, dan jumlah penduduk miskin di daerah pedesaan tercatat 121,97 ribu orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 5,47 persen.

Menurutnya, Kalsel adalah provinsi dengan tingkat kemis­kinan terendah di Pulau Kali­mantan. “Tingkat kemiskinan tertinggi regional Kalimantan terjadi di Kalbar, yaitu sebesar 7,49 persen,” ujarnya. Adapun indeks kedalaman kemiskinan di Kalsel sebesar 0,702 dan indeka keparahan kemiskinan sebesar 0,153.

Diah Utami menjelaskan, secara umum, selama periode 2006–2019 tingkat kemis­kinan, baik pada sisi jumlah maupun persentase penduduk miskin di Kalsel terus meng­alami penurunan.

Jumlah penduduk miskin di Kalsel pada Maret 2019 men­capai 192,48 ribu orang. Di­bandingkan jumlah penduduk miskin September 2018 yang berjumlah 195,01 ribu orang, maka terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 2,53 ribu orang.

“Periode September 2018–Maret 2019, jumlah penduduk miskin di perkotaan mengalami penurunan 160 orang, di pe­desaan juga turun sebanyak 2,36 ribu orang,” ujarnya.

Adapun Garis Kemiskinan (GK) adalah batas penentu apakah seseorang termasuk dalam kategori miskin atau tidak miskin. GK terdiri dari kom­ponen GK Makanan (GKM) dan GK Non Makanan (GKNM).

“Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis ke­miskinan. GK di Kalsel pada Maret 2019 sebesar Rp 457.222 perkapita perbulan,” katanya.

Garis pemisah penduduk miskin dan penduduk tidak miskin mengalami kenaikan 4,83 persen dibandingkan September 2018 yang sebesar Rp 436.163 perkapita perbulan, tambah Diah Utami. dio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *