Hj Raudatul Jannah Ajak Cintai Lansia

mb/ist
BERSAMA – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalsel, Hj Raudatul Jannah Sahbirin, MKes berfoto bersama Bupati HSS, H Achmad Fikry yang menerima penghargaan sebagai tokoh nasional peduli lanjut usia (Lansia) usai peringatan HLUN 2019 di Bandung

BANDUNG – Ketua Tim Peng­gerak PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Hj Raudatul Jannah Sah­birin menghadiri puncak pe­ri­ngatan Hari Lanjut Usia Na­sional (HLUN) 2019 di Monu­men Perjuangan Rakyat Jawa Barat, di Bandung, Rabu (10/7).

Pada puncak peringatan HLUN 2019 ini, sejumlah Kepala Daerah mendapatkan penghargaan sebagai tokoh nasional peduli Lanjut Usia  2019 dari Kementerian Sosial. Dari Kalsel salah satunya adalah Bupati Hulu Sungai Selatan, H Achmad Fikry.

Penghargaan itu diberikan Menteri Sosial RI, Agus Gumi­wang Kartasasmita. Kepala Daerah lainnya yang memperoleh penghargaan yang sama yaitu Walikota Bandung, Oded M Da­nial, Walikota Jambi Syarif Pasha, Walikota Padang Mah­yeldi Anshrullah, Bupati Ban­dung Dadang Naser dan Guber­nur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalsel, Hj Raudatul Jannah Sahbirin, MKes saat ditemui, Jumat (11/7) meng­apresiasi atas penghargaan yang diraih Bupati HSS.

“Saya menyampaikan ucapan kepada Bupati HSS, H Achmad Fikry yang memperoleh peng­hargaan sebagai salah satu tokoh nasional peduli lansia. Terus tingkatkan kepedulian kepada lansia,” ucapnya.

Istri Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor itu mengajak semua komponen terutama kader, pengurus PKK serta organisasi perempuan di daerah untuk terus peduli orangtua atau lansia.

Sementara itu, Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Karta­sasmita mengungkapkan bahwa lansia bukan halangan untuk tetap berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

Agus mengajak semua kom­ponen perlu mendukung sem­a­ngat positif para lansia seperti yang terlihat dalam acara HLUN 2019 yang dihadiri sekitar 6.000 lansia.

Pemerintah juga akan men­do­rong agar aturan batas usia lansia 60 tahun diubah menjadi 65 tahun. Karena menurut Agus, usia 60 adalah usia yang masih produktif dan aktif. Sesuai dengan tema HLUN 2019 “Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera dan Bermartabat.”

“Saya tentu akan mem­pertimbangkan untuk mendorong adanya revisi aturan itu agar lansia kita tetapkan pada umur 65 tahun,” katanya.

“Menjadi tantangan kita saat ini agar para lansia bisa menjadi aset Sumber Daya Manusia yang tetap sehat, mandiri, produktif, sejahtera dan ber­martabat se­hingga para lansia masih bisa ber­kontribusi secara po­sitif ter­hadap pem­bangunan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus men­jelaskan bahwa Indonesia telah memasuki era dengan penduduk berstruktur tua. Era tersebut dimulai pada tahun 2000 dengan proporsi lansia mencapai 7,18 persen, sedangkan suatu negara yang dikategorikan negara berstruktur tua apabila proporsi lansia mencapai 7 persen ke atas.

Pertumbuhan lansia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2005 terdapat 8,5 persen penduduk lansia, pada 2010 ada 9,77 persen penduduk lansia dan diakhir 2018 jumlah penduduk lansia mencapai 24,4 juta jiwa atau 9,27 persen dari total populasi Indonesia.

Pada 2020 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan mencapai 11,3 persen. “Tentu hal ini sudah seharusnya pemerintah baik pusat maupun daerah bekerja sama dengan lembaga non-pemerintah untuk mem­berikan perhatian dan dukungan kepada lansia,” katanya.rny/ani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *