loader image

Pemerintah Mulai Waspadai Kemarau Panjang

JAKARTA – Pemerintah tengah me­ngantisipasi terjadinya ke­ma­rau panjang yang diperkirakan ter­jadi hingga September, dan pun­caknya pada Agustus. Karena hal ini bisa memicu ke­na­i­kai­n­flasi.

Adapun wilayah yang te­rancam terdampak kekeringan ­me­­nurut informasi Badan Me­te­o­ro­logi, Klimatologi, dan Geo­fi­sika (BMKG) terjadi di Pulau Ja­wa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Ti­mur (NTT).

Menteri Perencanaan Pem­ba­ngunan Nasional (PPN)/Ke­pa­la Badan Perencanaan Pem­ba­ngunan Nasional (Bappenas), Bam­bang Brodjonegoro me­ng­a­ta­kan, pemerintah bersama Bank In­donesia (BI) akan me­ng­an­ti­sipasi tejadinya kemarau panjang ter­sebut. Sebab, apabila dibiarkan akan berdampak pada produksi pa­ngan dan mengakibatkan ter­ja­dinya inflasi.

“(Kita) antisipasi kemarau pan­jang. Kalau kemarau panjang kan larinya ke peroduksi pangan. Pa­dahal komponen inflasi kita kan yang paling besar pangan ber­gejolak. Jadi kita harus bener-be­ner antisipasi musim ke­ke­ri­ng­an yang mungkin agak di luar kebiasaan,” katanya usai ditemui di Kementerian Perekonomian, Ja­karta.

Lebih lanjut Menteri Bam­bang mengatakan, untuk ke­bu­tuh­an pangan sendiri seperti be­ras sejah ini masih terbilang aman. Sebab, stok yang berada di­gudang Bulog sendiri masih cu­kup banyak. “Beras sejauh ini kalau di ca­dangan bulog masih relatif aman. Jus­tru harusnya komoditi lain,” im­buhnya.

Kendati begitu, dirinya tidak me­rincikan komoditas-komoitas apa saja yang akan berdampak aki­bat terjadinya kemarau pan­jang tersebut. “Iya komoditi la­in­nya aja. Ya lain diluar beras,” pu­ngkasnya.

Seperti diketahui, kekeringan me­landa wilayah Kecamatan Ci­ba­rusah, Kabupaten Bekasi sejak dua bulan terakhir. Hal ini men­ye­babkan sekitar 40 persen lahan per­sawahan di Desa Sirnajati yang ditanami padi terancam gagal panen.

“Ada sekitar 20 hektare sa­wah milik lima kelompok tani, 40 persennya terdampak kek­e­ri­ng­an,” kata Sekretaris Desa Si­nar­jati Sahrudin di Cibarusah. Dia mengatakan, jika pun tu­run hujan dianggap telat. Sebab pa­di yang ditanam petani di sana te­lah memasuki usia 60 hari.

Sementara itu, Bank In­do­nesia (BI) mencatat pada minggu per­tama Juli 2019 terjadi inflasi 0,12 persen secara month to month (mtm). Sementara, secara ye­ar on year (yoy) tercatat se­be­sar 3,12 persen.

“Berdasarkan survei pe­man­tauan harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dua bulan se­be­lum­nya Mei dan Juni ini sesuai po­la musimannya dan berkaitan ha­ri Ramadan yang tinggi dan Al­hamdulilah bulan Juli 0,12 mom dan yoy 3,12 persen,” kata Gu­bernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Menurut Perry, angka te­r­se­but menunjukkan inflasi semakin terj­aga rendah dan stabil hingga bu­lan ketujuh ini. Sehingga inflasi pa­da akhir 2019 diproyeksikan ma­sih akan berada tengah-tengah di bawah kisaran 3,5 persen. mdk/mb06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *