Waspadai Cuaca Ekstrem di Tiga Daerah

Ilustrasi. ©google

BANJARBARU – Stasiun Meteorologi Klas II Syamsudin Noor Banjarmasin Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini untuk tiga daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) agar waspada cuaca ekstrem terjadinya hujan lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang.

“Wilayah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru untuk seminggu kedepan potensi hujan masih tinggi, jadi patut diwaspadai,” terang Staf Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Muhammad Shaa Imul Qadri di Banjarbaru, Selasa (11/6).

Secara spesifik, dia mengatakan, wilayah-wilayah masih berpotensi terjadi hujan sedang-lebat yang dapat disertai angin kencang, diantaranya Pulau Laut Utara, Batulicin, Kusan Hulu, Aranio, Kintap, Satui, Jorong, Pelaihari, Kelumpang Selatan, dan dapat meluas ke wilayah Kusan Hilir, Bati-Bati, Takisung, Panyipatan, Karang Intan, Kurau, Sei Pinang, Pengaron, Astambul, dan sekitarnya.

Shaaim menjelaskan, saat ini ada fenomena gangguan gelombang atmosfer atau disebut Madden Julian Oecilation (MJO) yang masuk ke wilayah Kotabaru membawa masa udara basah, sehingga berpotensi menimbulkan awan untuk terjadinya hujan.

Selain dari fenomena MJO tersebut, di Kalsel terutama bagian timur atau sekitar selat Makassar juga ada sirkulasi yang menghambat masa udara, dimana masa udara merapat sehingga memicu pertumbuhan awan di sekitar Kotabaru dan Tanah Bumbu.

“Daerah Samarinda di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara juga kena dampak cuaca esktrem yang dipicu MJO ini,” bebernya kepada Kantor Berita Antara.

Namun Shaaim menggarisbawahi, bahwa MJO bukan fenomena musim tetapi hanya intra musim alias fenomena gangguan sementara.

 “Jadi kenapa bisa banjir seperti Kotabaru dan Tanah Bumbu saat ini, karena hujan yang terus menerus lantaran banyak faktor mendukung terjadinya hujan. Kemudian faktor lokal, seharusnya musim kemarau, malah hujan yang berlangsung terus seharian karena fenomena tadi,” paparnya, sembari mengatakan jika kondisi normal musim kemarau terjadi Juni hingga November.

Di sisi lain, sungai yang jadi penampung air hujan kondisinya semakin menyempit dan daerah resapan air juga berkurang dari waktu ke waktu lantaran pertumbuhan pemukiman penduduk dan sebagainya.

Alhasil, hujan dengan intensitas tinggi akan membuat air tak bisa lagi ditampung atau dialirkan hingga sungai meluap dan berakibat banjir.Shaaim juga mengingatkan soal tinggi gelombang laut.

Dimana perairan selatan Kalimantan Selatan atau laut Jawa bagian timur 2 sampai 2,5 meter. Sedangkan kecepatan angin laut Jawa bagian timur 8 sampai 25 knot dan gelombang 1,25 sampai 2,5 meter.

Untuk itu, bagi nelayan, tongkang dan kapal ferry diminta waspada terhadap potensi gelombang tinggi mencapai 2,5 meter di laut Jawa bagian barat, tengah dan timur (selatan Kalimantan) yang berpotensi terjadi hingga bulan Juli 2019 mendatang.

“Kalau batas aman untuk gelombang di bawah 2 meter bagi nelayan dengan kapal-kapal kecil dan sedang. Sedangkan kecepatan angin di bawah 15 knot aman,” tandas Shaaim.

Untuk masyarakat secara umum, cuaca yang tak menentu saat ini harus waspada penyakit, sehingga diimbau mengurangi aktivitas di luar dan selalu menyediakan obat-obatan.

Jika pun harus beraktivitas di lapangan, maka selalu mengecek informasi dari BMKG terkait peringatan dini cuaca agar dapat mengantisipasi terjadinya hal-hal tak diinginkan.

“Update informasi kami bisa diakses di https://stamet.syamsudinnoor.bmkg.go.id atau media sosial Instagram @cuacakalsel dan Twitter cuacakalsel_bmkg,” pungkasnya.ant/rdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *