BPOM Temukan Wadai Mengandung Rhodamin B di Pasar Ramadhan

BPOM Temukan Wadai Mengandung Rhodamin B di Pasar Ramadhan

©antara
PEMERIKSAAN – BPOM Saat melaksanakan pemeriksaan di Pasar Ramadhan.

PARINGIN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) me­ne­mu­kan jenis wadai (kue) yang me­ng­andung bahan pangan ber­bahaya berupa Rhodamin B, di Pa­sar Ramadhan Kabupaten Ba­langan, Provinsi Kalimantan Se­latan.

Dinas Kesehatan bersama Di­nas Perindustrian dan Per­da­gangan Kabupaten Balangan, me­nggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ka­bu­paten terdekat, yakni Hulu Su­ngai Utara (HSU), untuk in­ten­sifikasi pangan selama Ra­ma­dhan.

Kepala Loka POM HSU, Bam­bang Hery Purwanto, m­el­alui staff nya, Winda me­ng­ungkapkan, pihaknya me­ne­mu­kan jenis wadai (kue) yang Tidak Me­menuhi Syarat (TMS) untuk di konsumsi.

“Pada kegiatan pemeriksaan di Pasar Ramadhan di Ke­ca­mat­an Paringin, Halong dan Ba­tu­man­di, dengan 82 sampling, diantaranya bingka barandam, mu­tiara, dawet, jeli, sirup, saos, es buah, gorengan dan lainnya,” ung­kapnya.

Dari hasil pemeriksaan ter­sebut lanjut Winda, ditemukan sa­tu jenis wadai yang tidak layak kon­sumsi karena mengandung ba­han pangan berbahaya berupa Rhodamin B.

Disebutkan, untuk jenisnya yak­ni Dawet Pelangi, sehingga ke­p­ada pedagang diberikan pem­bi­naan serta pengetahuan terkait ba­hayanya bagi ke­se­hatan pe­ng­ko­n­sumsi jika me­ng­gu­nakan ba­han pangan ber­ba­haya.

Untuk diketahui, Rhodamin B merupakan bahan pewarna ya­ng digunakan dalam industri tek­stil dan kertas. Rhodamin B juga bi­asa digunakan sebagai reagen di laboratorium untuk pengujian an­timon, kobal, niobium, emas, ma­ngan, air raksa, tantalum, ta­lium dan tungsten.

Bukan hanya sering di­te­mukan dalam bahan makanan, na­mun Rhodamin B juga kerap di­pa­kai untuk bahan kosmetik, se­hingga dapat membahayakan ba­gi pengkonsumsi dan pe­ng­guna ­kosmetik tersebut

Rhodamin B adalah zat war­na sintetis berbentuk serbuk kris­tal berwarna kehijauan, berwarna me­rah keunguan dalam bentuk ter­larut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada kon­sentrasi rendah.

Pemerintah telah melarang pe­nggunaan Rhodamin B untuk ma­kanan dalam Peraturan Menteri Ke­sehatan Republik Indonesia No­mor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang zat warna tertentu ya­ng dinyatakan sebagai bahan ber­bahaya, berkaitan dengan dam­paknya yang merugikan ke­sehatan manusia.

Jika dikonsumsi berulang-ula­ng Rhodamin B dapat me­nim­bulkan efek toksik akumulatif ya­ng tidak langsung muncul. Efek toksik baru terlihat beberapa ta­hun kemudian.

“Ini sangat berbahaya, ka­re­na sebagian besar konsumen tidak mengetahui adanya Rho­da­min B dalam makanan yang me­reka konsumsi, maupun pada kosmetik yang mereka pakai. Dan lebih parahnya lagi mereka tidak mengetahui bahwa tubuh mereka telah dirusak perlahan-lahan oleh zat berbahaya ini,” jelasnya.

Rhodamin B dapat men­ye­bab­kan iritasi saluran per­na­fasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pen­cernaan, keracunan, gangguan ha­ti/liver, dan yang paling serius ada­lah kanker hati.

“Kepada penjual kita berikan pem­binaan serta diberikan surat pe­ringatan untuk tidak lagi me­ng­ulangi perbuatan tersebut,” pung­kasnya. an/mb03 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *